SimadaNews com-Pengerjaan Proyek Jalan Usaha Tani (JUT) Dinas Pertanian Simalungun, di Nagori Tongah Nagori Pardomuan Tongah, Kecamatan Silou Kahean, dinilai dikerjakan asal jadi.
Pasalnya, baru lebih kurang seminggu selesai dikerjakan kondisi pengerjaan khususnya pembuatan gorong gorong sudah terlihat rusak parah.
Informasi diperoleh dari warga yang memiliki lahan perladangan di lokasi proyek, menceritakan sepengetahuan mereka proyek jalan usaha tani itu merupakan proyek pembukaan jalan.
Padahal sebenarnya, sejak dahulu jalan sudah ada sehingga yang dilakukan pihak pemborong hanyalah clearing (pembersihan) badan jalan.
Selain itu, ada pembuatan gorong-gorong yang dinilai pekerjaannya asal jadi dan tidak berkualitas. Buktinya, masih seminggu selesai dikerjakan, gorong-gorong sudah rusak dan ada yang pecah.
Menurut warga, pemasangan gorong-gorong tidak sesuai. Sebab, cetakan gorong-gorong yang dimasukkan ke saluran air, hanya ditimbun menggunakan tanah tidak memakai cor semen beton. Sehingga ketika hujan turun, tanah timbunan hanyut dan membuat gorong-gorong pecah dan kondisinya tidak bisa dilalui warga.
Warga menyebutkan, mereka tidak mengetahui jumlah anggaran proyek jalan usaha tani itu, sebab selama dilaksanakan pengerjaan, tidak ada plank proyek dipasang di lokasi.
Warga berharap, pihak Dinas Pertanian Simalungun memberikan sanksi kepada pemborong, supaya gorong-gorong yang sudah rusak kembali dikerjakan dan dibuat berkualitas.
Sementara diperoleh informasi, proyek jalan usaha tani itu sumber anggarannya dari APBD Simalungun senilai antara Rp175 juta hingga Rp200 juta, dikerjakan pemborong asal Tebing Tinggi yang merupakan penghunjukan dari Dinas Pertanian Simalungun. Dan diketahui, proyek itu masih dalam proses pengajuan pembayaran.
Anggota DPRD Simalungun asal Silou Kahean, Julham Affandi Saragih, ketika diminta tanggapannya terkait pelaksanaan proyek tersebut, mengaku kecewa dengan pihak Dinas Pertanian Simalungun.
Julham mengaku, usulan pengerjaan JUT itu merupakan aspirasi masyarakat yang disampaikan kepadanya beberapa waktu lalu dan aspirasi masyarakat diteruskannya kepada Dinas Pertanian. Namun setelah pengerjaan dimulai, pihak Dinas Pertanian maupun kontraktornya tidak ada melakukan koordinasi.
“Kita kecewa juga melihat hasil kerja seperti itu. Informasi kerusakan pengerjaan itu sudah kami sampaikan juga kepada Dinas Pertanian, supaya dilakukan perbaikan segera,” aku Julham. (SNC)

