SimadaNews.com—Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, hingga 22 November 2025, mengakibatkan banjir besar dan tanah longsor di sejumlah kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng mencatat bencana tersebut berdampak pada 1.902 kepala keluarga (KK) dan menyebabkan empat orang meninggal dunia di Kecamatan Sitahuis.
Banjir merendam ribuan rumah di tujuh kecamatan, di antaranya Pandan, Sarudik, Barus, Badiri, Kolang, Tukka, dan Lumut.
Luapan sungai terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi sejak malam hingga dini hari.
Kepala BPBD Tapteng, Rahman Husein Siregar, menyebut bencana kali ini termasuk yang paling luas dalam dua tahun terakhir.
“Curah hujan ekstrem memicu luapan sungai dan banjir di berbagai titik. Tim gabungan sudah bergerak cepat melakukan evakuasi dan pendataan,” ujarnya.
Sedikitnya 45 jiwa dari 10 KK terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dapur umum dan pos kesehatan telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga.
Tragedi paling memilukan terjadi di Dusun 1, Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, ketika tanah longsor menimpa satu rumah warga.
Empat orang yang merupakan satu keluarga, seorang ibu dan tiga anaknya ditemukan meninggal dunia tertimbun material longsoran.
Video suasana evakuasi yang tersebar di media sosial menunjukkan warga menangis histeris sambil menggendong korban, menggambarkan beratnya kondisi psikologis masyarakat yang terdampak.
Pemerintah Daerah Gerak Cepat
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, langsung melaporkan kondisi bencana kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dan meminta dukungan penuh untuk penanganan darurat.
“Prioritas utama kami adalah keselamatan warga dan percepatan bantuan bagi masyarakat terdampak,” kata Bupati Masinton.
Ketua TP PKK Tapteng, Rismawaty Masinton Pasaribu, turun langsung menyerahkan bantuan berupa beras, mie instan, telur, dan minyak goreng kepada korban banjir di beberapa titik.
Sementara itu, Basarnas, TNI, dan Polri bersama BPBD terus melakukan evakuasi, pembersihan material longsor, serta pemulihan akses jalan yang sempat terputus.
Jaringan Telekomunikasi Sempat Lumpuh
Hujan deras dan banjir juga menyebabkan gangguan jaringan telekomunikasi di wilayah Sibolga dan Tapteng. Sinyal Telkomsel sempat hilang selama beberapa jam, membuat laporan situasi dari lapangan terhambat.
BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan lebat disertai angin kencang di wilayah pantai barat Sumatera Utara sepanjang November–Desember 2025.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, longsor, dan gelombang tinggi.
Mitigasi Jangka Panjang Didorong
Melihat tingginya risiko bencana di Tapteng, pemerintah daerah berencana memperkuat sistem mitigasi, termasuk perbaikan tanggul, normalisasi sungai, serta program penghijauan di wilayah rawan longsor.
Banjir dan longsor yang melanda Tapanuli Tengah bukan hanya menyebabkan kerusakan material dan kerugian ekonomi, tetapi juga merenggut nyawa warga dan mengguncang psikologis masyarakat.
Penanganan cepat telah dilakukan, namun upaya pemulihan dan mitigasi jangka panjang menjadi pekerjaan besar agar bencana serupa tidak kembali menelan korban. (SNC)

