SimadaNews.com– Suasana khidmat menjelang malam Natal di Komplek Perumahan Rorinata, Kelurahan Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, berubah mencekam.
Seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di lingkungan Kepolisian berinisial SS, diduga melepaskan tembakan air softgun ke arah kerumunan warga pada Selasa (24/12/2025) sekitar pukul 23.50 WIB.
Insiden tersebut terjadi di tengah kehadiran aparat kepolisian di lokasi, sehingga memunculkan pertanyaan serius terkait fungsi pengamanan dan upaya mediasi yang dilakukan petugas.
Peristiwa bermula dari insiden kecil ketika mobil pick up yang dikemudikan SS menyenggol lampu hias Natal milik warga hingga putus.
Saat ditegur pemilik lampu, Sampetua Sihotang, pelaku diduga tidak menunjukkan itikad baik, melainkan justru menyemprotkan gas air mata ke arah korban.
Tindakan tersebut memicu reaksi warga sekitar. Massa kemudian mendatangi rumah SS untuk meminta pertanggungjawaban.
Sejumlah personel Polsek Pamatang Raya dilaporkan sudah berada di lokasi dan berupaya melakukan mediasi.
Namun situasi justru memburuk. Di tengah kerumunan, SS diduga keluar dari rumah dan melepaskan sekitar 10 tembakan air softgun ke arah warga yang tidak bersenjata.
Akibatnya, empat orang warga mengalami luka tembak dan harus menjalani perawatan medis.
Keempat korban masing-masing, Deardo Purba (30), mengalami luka serius dan dirujuk ke RS Adam Malik Medan.
Risjon Purba, dirawat di RSUD Rondahaim. Putra Sinaga, dirawat di RSUD Rondahaim. Dan Toto Sumbayak, dirawat di RSUD Rondahaim.
Jeritan keluarga korban, khususnya istri Deardo Purba, di tengah sunyinya malam Natal disebut warga menjadi gambaran nyata trauma yang dialami masyarakat, khususnya umat Nasrani yang tengah mempersiapkan perayaan kelahiran Yesus Kristus.
Kekecewaan mendalam pun dirasakan warga Sondi Raya. Sejumlah saksi menyebutkan bahwa beberapa oknum kepolisian telah berada di rumah pelaku sebelum insiden penembakan terjadi.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Polisi sudah ada di lokasi, tapi penembakan tetap terjadi. Seolah-olah tidak ada upaya nyata untuk mencegah tindakan brutal tersebut,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kini, kredibilitas Polres Simalungun menjadi sorotan publik. Warga mendesak agar aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan terhadap oknum SS tanpa perlakuan istimewa.
Masyarakat menegaskan, apabila hukum tidak ditegakkan secara adil terhadap sesama aparat, maka semboyan
“Melindungi dan Melayani Masyarakat” dinilai tidak lebih dari sekadar slogan kosong. (SNC)
Laporan: Gullit Saragih

