SimadaNews.com–Kurangnya perawatan dan pengawasan manajemen diduga menjadi penyebab rusaknya tanaman kelapa sawit di Afdeling (Afd) 1 Unit Kebun Laras Regional II.
Fakta di lapangan menunjukkan serangan ulat api, pertumbuhan sawit liar yang tidak terkendali, serta banyaknya Tandan Buah Segar (TBS) yang dibiarkan membusuk di pohon.
Hal tersebut terungkap saat jurnalis simadanews.com melakukan investigasi langsung ke Afd 1 Unit Kebun Laras pada Rabu (23/1/2026).
Di lokasi, terlihat sejumlah pohon sawit yang masih produktif—diperkirakan berusia antara 3 hingga 7 tahun—mengalami kerusakan cukup parah.
Tidak hanya itu, TBS yang telah matang tampak dibiarkan membusuk di pohon, sementara berondolan berserakan tanpa pengutipan.
Dari hasil investigasi tersebut, kinerja Mandor 1 Afd 1 Unit Kebun Laras, Junaidi, serta Asisten Afd 1, Roni Hasibuan, dinilai tidak optimal dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemeliharaan kebun.
Upaya konfirmasi kepada Junaidi selaku Mandor 1 Afd 1 Unit Kebun Laras telah dilakukan melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan tidak memberikan jawaban.
Sementara itu, untuk menghadirkan pemberitaan yang berimbang, Asisten Afd 1 Unit Kebun Laras, Roni Hasibuan, memberikan penjelasan terkait kondisi tanaman sawit yang rusak.
“Kalau untuk serangan ulat, sudah kita laksanakan tindakan global telling sesuai prosedur. Untuk serangan yang sudah di ambang batas, juga telah kita laporkan secara tertulis untuk dilakukan pemberantasan,” ujar Roni kepada simadanews.com.
Terkait masih banyaknya tanaman sawit liar yang tumbuh di areal kebun, Roni menjelaskan bahwa pada tahun 2025 memang tidak ada kegiatan pemeliharaan gawangan untuk Tanaman Tahun Tanam (TT) 2022.
“Pada tahun 2025, pemeliharaan gawangan yang berkaitan dengan dongkel tukulan memang tidak ada. Namun bukan berarti dibiarkan, saat ini areal tersebut kami perbaiki secara bertahap,” jelasnya.
Saat disinggung mengenai banyaknya TBS yang membusuk di pohon serta berondolan yang tidak dikutip, Roni Hasibuan yang juga menjabat sebagai Ketua SP-BUN Unit Kebun Laras hanya memberikan tanggapan singkat.
“Baik bang, terima kasih infonya, nanti kami eksekusi,” tutupnya.
Kondisi ini memunculkan sorotan serius terhadap pengelolaan kebun, mengingat tanaman yang rusak dan TBS terbuang berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan serta mencerminkan lemahnya pengawasan di tingkat lapangan. (SNC)
Laporan: Darwin Sinaga

