SAYA menulis catatan ini dari kawasan Gunung Budha Pattaya, Thailand. Berdiri di hadapan tebing batu kapur raksasa dengan pahatan Buddha emas yang menjulang, suasana hening bercampur kagum menyelimuti batin.
Kunjungan ini merupakan bagian dari studi banding Sekolah Pascasarjana Universitas Simalungun (USI), Rabu 28 Januari 2026. sebuah perjalanan akademik lintas negara yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memantik refleksi mendalam tentang tanah air khususnya Tanah Kelahiran Simalungun.
Di belahan dunia yang berbeda. Dua kawasan perbukitan ini, Dolok Simarsolpah-Dolok Simarsuppit di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dan Gunung Budha di Pattaya, menyimpan makna yang jauh melampaui bentang alamnya.
Keduanya menjadi ruang perjumpaan antara alam, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakatnya. Meski dipisahkan jarak ribuan kilometer, keduanya menghadirkan narasi yang menarik untuk dibandingkan, tentang bagaimana manusia memaknai ketinggian, kesunyian, dan spiritualitas.
Gunung Budha Pattaya yang dikenal luas sebagai Khao Chi Chan, merupakan ikon spiritual sekaligus wisata Thailand.
Pada tebing batu kapurnya terukir citra Buddha raksasa berlapis emas hasil perpaduan seni, teknologi, dan keyakinan. Tempat ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang ibadah dan refleksi.
Ribuan peziarah dan wisatawan datang setiap tahun untuk merasakan ketenangan, mengagumi keindahan, sekaligus menyerap nilai-nilai ajaran Buddha tentang kedamaian dan keseimbangan hidup.
Namun, di tengah kekaguman itu, pikiran saya justru melayang ke kampung halaman Simalungun, teparnya ke Dolok Simarsolpah-Dolok Simarsuppit yang berada di anatara Kecamatan Raya Kahean-Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun.
Dolok Simarsolpah-Dolok Simarsuppit, mungkin tidak dikenal dunia, tetapi menyimpan keindahan dan makna yang tidak kalah mendalam.
Dolok Simarsolpah-Simarsulpit dikenal sebagai kawasan perbukitan yang masih asri, dengan hutan yang terjaga, udara sejuk, dan kabut pagi yang turun perlahan seperti selimut alam.
Bagi masyarakat setempat, dolok bukan sekadar bentang geografis, melainkan bagian dari kosmologi Simalungun yang sarat nilai spiritual. Dolok dipandang sebagai tempat yang “tinggi” secara batin ruang perenungan, doa, serta penghormatan kepada leluhur.
Cerita lisan, ritus adat, dan kearifan lokal melekat kuat pada lanskapnya, menjadikannya simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Jika Gunung Budha Pattaya memukau melalui kemegahan visual dan tata kelola modern, maka Dolok Simarsolpah-Simarsuppit memikat melalui keheningan yang jujur.
Tidak ada keramaian wisata massal, tidak ada hiruk-pikuk komersialisasi. Yang ada adalah kesunyian yang berbicara, alam yang terjaga, dan rasa hormat yang tumbuh secara alami.
Dalam banyak hal, Dolok Simarsolpah-Simarsuppit tidak kalah indahnya—bahkan menawarkan keindahan yang lebih murni dan mendalam.
Perbedaan paling mencolok antara keduanya terletak pada pengelolaan dan eksposur. Gunung Budha Pattaya dikelola secara profesional sebagai destinasi wisata spiritual bertaraf internasional, dengan infrastruktur yang tertata dan promosi global.
Sebaliknya, Dolok Simarsolpah-Simarsuppit masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap. Keasriannya tetap terjaga, tetapi narasi budaya dan spiritualnya masih tersembunyi di balik keterbatasan akses dan minimnya perhatian.
Namun justru di situlah kekuatan sekaligus misterinya. Dolok Simarsolpah-Simarsuppit menyimpan potensi tersembunyi baik dari sisi wisata berbasis alam, spiritualitas lokal, pendidikan budaya, hingga pengembangan ekowisata yang berkelanjutan.
Ia (Simarsolpah-Simarsuppit) seolah menunggu untuk dipahami, bukan dieksploitasi; untuk dirawat, bukan dipamerkan secara berlebihan.
Kedua gunung ini juga mengajarkan bahwa spiritualitas tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Di Pattaya, spiritualitas diekspresikan melalui monumen megah dan simbol visual yang kuat. Di Dolok Simarsolpah, spiritualitas hidup dalam lanskap alami, adat istiadat, dan cerita turun-temurun.
Dua jalan yang berbeda, namun menuju tujuan yang sama pencarian makna dan keseimbangan hidup.
Membandingkan Dolok Simarsolpah dengan Gunung Budha Pattaya bukan untuk menempatkan yang satu lebih unggul dari yang lain, melainkan untuk melihat potensi dan pembelajaran.
Dari Gunung Budha Pattaya, kita belajar tentang tata kelola, promosi, dan integrasi antara spiritualitas dan pariwisata. Dari Dolok Simarsolpah, kita diingatkan akan pentingnya keaslian, kearifan lokal, dan relasi yang berkelanjutan dengan alam.
Di bawah bayang Gunung Budha Pattaya, saya semakin yakin bahwa Tanah Kelahiranku Simalungun, memiliki kekayaan yang sejatinya setara dengan destinasi dunia.
Suatu hari nanti, Dolok Simarsolpah dapat dikenal luas bukan karena kemegahan yang dibuat, tetapi karena keindahan alaminya, keasriannya yang terjaga, serta misteri potensinya yang memberi ruang bagi refleksi, pembelajaran, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Karena pada akhirnya, di mana pun kita berdiri, entah di bawah pahatan emas Buddha Pattaya atau di balik kabut pagi Dolok Simarsolpah, gunung selalu mengajak manusia untuk berhenti sejenak, menunduk, dan mengingat bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, alam, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. (*)
Penulis: Hermanto Hamonangan Sipayung, Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarja USI Pematangsiantar

