SimadaNews.com-Kebiasaan kembali rebahan setelah santap sahur masih sering dianggap sepele. Namun di balik rasa kantuk yang sulit ditahan, dokter justru memberi peringatan keras.
Tidur terlalu cepat usai makan dini hari disebut dapat memicu gangguan pencernaan, penumpukan lemak, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung.
Memasuki Ramadan, perubahan pola tidur membuat banyak orang memilih tidur kembali setelah sahur agar tetap bertenaga di siang hari.
Praktik ini ternyata tidak disarankan secara medis karena proses pencernaan membutuhkan waktu sebelum tubuh benar-benar beristirahat.
Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dede Nasrullah, menjelaskan lambung setidaknya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk mengosongkan makanan.
Posisi berbaring sebelum proses itu selesai dinilai bisa menghambat kerja pencernaan.
“Posisi tiduran dapat mengganggu pengosongan lambung dan berisiko memicu GERD maupun sembelit,” ujarnya, Senin (23/2).
Menurut Dede, saat tubuh memasuki fase tidur, sebagian besar fungsi organ melambat. Kondisi tersebut membuat makanan yang baru dikonsumsi tidak tercerna optimal dan membuka peluang refluks asam lambung.
Gejala yang muncul biasanya berupa sensasi panas di dada, tenggorokan terasa terbakar, mual, hingga rasa pahit di mulut.
Tak hanya persoalan lambung, kebiasaan tidur setelah sahur juga berdampak pada metabolisme. Kalori yang masuk tidak dipakai sebagai energi dan berpotensi tersimpan menjadi lemak, terutama jika menu sahur tinggi karbohidrat dan lemak.
Lebih jauh, Dede mengingatkan efek lanjutan yang kerap luput disadari, yakni peningkatan tekanan darah setelah makan berat lalu langsung berbaring.
Bila terjadi berulang, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung.
Untuk mencegah dampak tersebut, masyarakat dianjurkan memberi jeda sebelum tidur kembali.
Aktivitas ringan seperti berjalan sebentar, merapikan rumah, atau bersiap berangkat kerja dinilai cukup membantu proses pencernaan berlangsung normal.
Dede menekankan, jeda sekitar tiga jam setelah sahur merupakan waktu aman agar makanan diproses optimal dan risiko gangguan kesehatan dapat ditekan. (SNC)

