SimadaNews.com-Pergerakan pasar saham domestik berbalik arah tajam. Setelah sempat optimistis di awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Selasa (24/2/2026) justru tergelincir dalam tekanan jual besar-besaran.
Data perdagangan menunjukkan IHSG ditutup melemah 115,25 poin atau sekitar 1,37 persen ke level 8.280,83.
Koreksi ini dibarengi dominasi saham yang jatuh, dengan 596 emiten parkir di zona merah, hanya 163 saham menguat dan 199 lainnya stagnan.
Gelombang pelemahan tidak terjadi secara parsial. Hampir seluruh indeks sektoral ikut tertekan, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap risiko global maupun sentimen domestik.
Di tengah tekanan itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya yang mampu bertahan dengan kenaikan tipis sekitar 1,02 persen.
Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar bursa juga menyusut menjadi sekitar Rp14.895 triliun.
Aktivitas transaksi tetap tinggi dengan frekuensi lebih dari 3,3 juta kali, volume 57,88 miliar saham, dan nilai perdagangan menembus Rp29,14 triliun.
Peta Saham: Ada yang Melonjak, Banyak yang Terpuruk
Di tengah koreksi IHSG, sejumlah saham masih mencatat lonjakan signifikan.
Saham PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA) memimpin penguatan setelah melesat lebih dari 28 persen.
Disusul PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) yang naik 25 persen dan PT Bank Mega Tbk (MEGA) dengan kenaikan sekitar 24 persen.
Sebaliknya, tekanan paling dalam menghantam saham PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) yang turun sekitar 15 persen.
Pelemahan juga dialami PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) dan PT Indospring Tbk (INDS), masing-masing terkoreksi mendekati 15 persen.
Kontras dengan Perdagangan Sehari Sebelumnya
Koreksi ini terasa kontras dibandingkan sesi sebelumnya. Pada Senin (23/2/2026), IHSG masih ditutup menguat sekitar 1,50 persen ke level 8.396, menandakan perubahan sentimen yang cepat di kalangan investor.
Secara keseluruhan, penutupan IHSG hari ini mencerminkan fase konsolidasi pasar setelah reli sebelumnya.
Tekanan jual yang merata menjadi sinyal bahwa investor mulai mengunci keuntungan sekaligus menimbang arah sentimen global.
Bagi pelaku pasar, kondisi ini menegaskan pentingnya selektivitas. Di tengah mayoritas saham melemah, peluang tetap terbuka pada emiten yang memiliki katalis fundamental kuat atau momentum sektoral yang masih terjaga. (SNC)

