SimadaNews.com-Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada pembukaan perdagangan Rabu pagi.
Mata uang Garuda tercatat melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat, menandai berlanjutnya tekanan eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data pasar uang pada Rabu (25/2/2026), rupiah memulai perdagangan di level Rp16.832 per dolar AS atau turun sekitar 3 poin dibanding posisi sebelumnya.
Pelemahan tipis ini terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga cenderung terkoreksi terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Pelaku pasar masih mencermati dinamika global, mulai dari tensi geopolitik hingga arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang memicu kehati-hatian investor di kawasan emerging market.
Faktor eksternal tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, bergerak terbatas dan rawan fluktuasi.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tren pelemahan berpotensi berlanjut sepanjang sesi perdagangan.
Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp16.830 hingga Rp16.860 per dolar AS.
“Pergerakan rupiah hari ini masih dibayangi sentimen global dan data fiskal domestik,” ujarnya.
Selain sentimen global, pasar juga menyoroti perkembangan fiskal dalam negeri.
Realisasi pembiayaan pemerintah di awal tahun yang masih moderat serta penarikan utang baru menjadi variabel yang ikut diperhitungkan investor dalam membaca arah stabilitas rupiah ke depan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik internasional termasuk negosiasi terkait program nuklir Iran dan potensi perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat menambah volatilitas pasar keuangan global.
Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven dan menekan mata uang negara berkembang.
Dengan kombinasi sentimen global dan faktor domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan bergerak hati-hati sepanjang hari.
Investor kini menunggu katalis baru, baik dari data ekonomi global maupun kebijakan otoritas moneter, yang dapat menentukan arah rupiah pada perdagangan selanjutnya. (SNC)

