SimadaNews.com-Nilai tukar rupiah secara mengejutkan menutup perdagangan Kamis (26/2/2026) dalam tren penguatan.
Saat bursa ditutup, kurs rupiah bergerak di sekitar Rp16.759 per dolar AS, menunjukkan sentimen pasar yang mulai bergeser setelah beberapa hari tekanan berat terhadap mata uang Garuda.
Pagi hari tadi, rupiah bahkan sempat bernyanyi di level Rp16.744–Rp16.755, menguat cukup signifikan dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Aksi beli mata uang domestik ini mencerminkan optimisme baru di kalangan pelaku pasar meski sejumlah risiko global tetap menghantui.
Pasar kini fokus tajam pada negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, yang dipandang sebagai pemicu utama pergerakan mata uang Asia belakangan ini.
Pernyataan pihak berkepentingan bahwa pembicaraan diplomatik tersebut bisa memberikan ruang mereda ketegangan telah memicu ekspektasi baru di pasar modal dan valuta asing.
“Perhatian investor global benar-benar tertuju pada putaran lanjutan pembicaraan AS dan Iran,” ujar salah seorang pengamat ekonomi pasar uang, yang menekankan bahwa perkembangan diplomasi di Timur Tengah bisa menjadi game changer bagi sentimen pasar.
Pernyataan ini menggambarkan betapa pasar tetap waspada terhadap isu geopolitik yang memiliki efek kejut terhadap nilai tukar.
Selain faktor geopolitik, data ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan moneter juga ikut menggerakkan nilai tukar.
Indeks dolar Amerika Serikat sempat menguat setelah rilis data ekonomi kuat, yang serentak memperketat posisi rupiah. Namun, sentimen terhadap potensi stabilisasi konflik di Timur Tengah sedikit meredakan tekanan tersebut.
Analis pasar menilai bahwa rupiah kini berada di persimpangan penting. Sementara sentimen risiko global masih memberikan tekanan, optimisme terhadap penyelesaian konflik dan arah kebijakan Bank Sentral AS dapat membuka peluang naik lebih lanjut jika diplomasi terus menunjukkan kemajuan.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar diprediksi akan tetap memantau perkembangan negosiasi AS-Iran, data ekonomi AS, dan kebijakan moneter global sebagai penentu utama arah rupiah. Pergerakan ini menunjukkan betapa kuatnya keterkaitan nilai tukar dengan dinamika geopolitik dan ekonomi internasional. (SNC)

