Kabar duka menyelimuti dunia musik sekaligus gerakan aktivisme Indonesia. Sosok di balik lagu perjuangan Darah Juang, John Tobing, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu malam, 25 Februari 2026.
Pria bernama lengkap Johnsony Maharsak Lumban Tobing itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 20.45 WIB setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Yogyakarta.
Kabar wafatnya dikonfirmasi sejumlah kolega dan tokoh, menandai kehilangan besar bagi generasi aktivis lintas era.
Wakil Menteri HAM Mugiyanto menyebut kepergian John sebagai kehilangan figur penting gerakan mahasiswa 1980–1990-an.
“Ia meninggalkan warisan tak ternilai: lagu Darah Juang yang membuat kita merinding setiap mendengar,” ujarnya mengenang sosok almarhum.
Dari Petikan Gitar Asrama hingga Lagu Ikonik Aksi Jalanan
Nama John Tobing tak bisa dipisahkan dari “Darah Juang”, lagu yang sejak era reformasi kerap menjadi pengobar semangat mahasiswa ketika turun ke jalan menyuarakan keadilan.
Lagu tersebut lahir dari proses sederhana petikan gitar dan lirik yang disusun di masa muda namun kemudian menjelma simbol perlawanan generasi.
Di kalangan aktivis, John dikenal bukan hanya sebagai pencipta lagu, tetapi juga bagian dari denyut pergerakan itu sendiri.
Ia ikut hadir dalam berbagai momentum perjuangan, menjadikan musik sebagai medium kritik sosial yang kuat.
Perjuangan Melawan Sakit Hingga Detik Terakhir
Keluarga mengungkap kondisi kesehatan John menurun sejak akhir 2025.
Ia sempat keluar-masuk rumah sakit akibat penyakit yang diderita, sebelum akhirnya kembali dirawat intensif pada Februari 2026 setelah mengalami penurunan kesadaran hingga henti jantung.
Jenazah disemayamkan di rumah duka RS Bethesda Yogyakarta dan dijadwalkan dimakamkan di TPU Madurejo, Sleman.
Suasana duka menyelimuti keluarga, sahabat, serta rekan aktivis yang datang memberi penghormatan terakhir.
Pesan Terakhir: Lagu untuk Bangsa, Bukan Sekadar Karya
Di balik kepergiannya, keluarga mengungkap pesan yang menjadi penegasan karakter John.
Putranya, Gopas Kibar Syang Proudy, menyampaikan bahwa sang ayah tak pernah mempersoalkan hak cipta lagu legendaris itu.
“Harapannya lagu ini untuk bangsa dan terus dinyanyikan di mana saja,” ujar Gopas, menegaskan keinginan John agar karyanya hidup melampaui dirinya.
Semangat yang Tak Ikut Terkubur
Kepergian John Tobing memang meninggalkan ruang kosong, tetapi resonansi “Darah Juang” dipastikan terus mengalun di ruang-ruang publik, kampus, hingga mimbar aksi.
Lagu itu menjadi bukti bahwa musik mampu melampaui waktu menyatukan emosi, memantik keberanian, dan mengingatkan generasi tentang arti perjuangan.
Bagi banyak orang, John telah tiada. Namun semangat yang ia titipkan melalui nadanya tetap hidup, setiap kali suara massa menyanyikan bait-bait perlawanan di jalanan Indonesia. (SNC)

