SimadaNews.com – Nilai tukar rupiah kembali menutup perdagangan dengan nada negatif pada Jumat (27/2/2026).
Mata uang Garuda dilaporkan melemah hingga menyentuh kisaran Rp16.787 per dolar Amerika Serikat (AS), menandai tekanan lanjutan yang membayangi pasar keuangan domestik di penghujung pekan.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya kondusif.
Pelaku pasar mencermati pergerakan dolar AS yang fluktuatif serta meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek suku bunga global dan ketegangan geopolitik.
Sejumlah data pasar menunjukkan rupiah memang bergerak di zona merah sejak sesi perdagangan pagi.
Tekanan eksternal menjadi pemicu dominan, mulai dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat hingga sentimen perdagangan global yang belum stabil.
Dolar AS Ikut Melemah, Pasar Tetap Waspada
Menariknya, di saat rupiah tertekan, dolar AS juga tidak sepenuhnya perkasa.
Pergerakan indeks dolar yang cenderung datar membuat pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor arus modal dan psikologi pasar ketimbang lonjakan tajam greenback.
Analis pasar menilai kondisi ini mencerminkan fase konsolidasi global. Investor masih menimbang arah kebijakan bank sentral utama, khususnya peluang penurunan suku bunga The Fed yang belum pasti.
Ketidakjelasan tersebut membuat aliran dana ke aset berisiko, termasuk mata uang emerging market, menjadi terbatas.
Faktor Global Dominan, Risiko Domestik Membayangi
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, sebelumnya memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah akibat kombinasi sentimen eksternal.
Ia menyoroti isu geopolitik serta perubahan kebijakan perdagangan AS sebagai faktor yang menambah ketidakpastian pasar.
Selain faktor global, pasar domestik juga mencermati dinamika fiskal dan arus investasi asing.
Investor cenderung berhati-hati menempatkan dana di aset rupiah, terutama menjelang sejumlah agenda ekonomi penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
Rupiah Masih Rentan Bergerak Volatil
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pelaku pasar memprediksi rupiah masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek.
Rentang pergerakan di kisaran Rp16.750–Rp16.800 per dolar AS dinilai menjadi area yang perlu diwaspadai investor.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga diharapkan dapat menahan pelemahan lebih dalam. Stabilitas inflasi, cadangan devisa, serta intervensi otoritas moneter menjadi faktor penopang yang terus dipantau pasar. (SNC)

