SimadaNews.com-Pagi itu, cahaya matahari menyelinap di sela-sela dinding papan sebuah rumah kontrakan sederhana di Jalan Farel Pasaribu, Gang Jengkol, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Siantar Marihat.
Di rumah kecil itulah tiga bersaudara, Serly, Desima, dan Marudut Pandiangan, menjalani hari-hari mereka tanpa ayah, tanpa ibu, dan tanpa kepastian.
Di usia yang tak lagi muda—Desima (45), Marudut (43), dan Serly (41) mereka belum pernah membangun keluarga sendiri.
Bukan karena tak ingin, melainkan karena hidup telah menempatkan mereka pada perjuangan yang berbeda.
Serly, si bungsu, kini menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia menerima upah dari pekerjaan memayet pakaian pekerjaan rumahan yang menuntut ketelitian dan kesabaran.
Dari hasil itulah dapur tetap mengepul, meski kadang hanya dengan lauk seadanya.
“Saya yang bekerja untuk kami bertiga,” ucap Serly lirih, Jumat (27/2/2026), sembari menunduk.
Sejak lulus SMA, Desima mengalami gangguan kejiwaan. Kondisinya membuat ia tak mampu bekerja.
Sementara Marudut pernah mengalami kecelakaan yang memaksanya menjalani operasi pemasangan pen di kaki. Hingga kini, pen itu belum pernah dilepas karena keterbatasan biaya.
Langkah Marudut tak lagi tegap. Ia lebih sering duduk di sudut rumah, menahan nyeri yang sesekali datang. Desima pun lebih banyak berdiam diri. Di tengah keterbatasan itu, Serly berdiri sebagai satu-satunya sandaran.
Sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia, hidup terasa semakin berat. Bantuan sosial yang dulu sempat mereka terima melalui Program Keluarga Harapan (PKH) tak lagi datang.
“Dulu pernah dapat bantuan PKH, tapi sekarang sudah tidak pernah lagi,” kata Serly, suaranya nyaris tak terdengar.
Tak ada keluhan panjang yang keluar dari bibirnya. Hanya tatapan yang menyiratkan kelelahan dan harapan yang tertahan. Meski hidup dalam kekurangan, Serly mengaku tetap bersyukur.
“Kami masih diberi napas sampai hari ini,” ujarnya pelan.
Namun syukur saja tak cukup untuk membayar biaya berobat atau membeli beras ketika persediaan menipis. Harapan mereka sederhana perhatian dari Pemerintah Kota Pematangsiantar.
Serly berharap bisa mendapatkan BPJS Kesehatan gratis agar pengobatan kakak dan abangnya dapat ditangani dengan layak. Bantuan beras pun menjadi kebutuhan mendesak.
“Saya memohon kepada pemerintah, khususnya kepada Bapak Wali Kota, agar memperhatikan kami. Kami berharap bisa mendapat BPJS gratis dan bantuan beras,” ucapnya penuh harap.
Di balik sempitnya Gang Jengkol, kisah tiga bersaudara ini menjadi potret sunyi tentang warga yang berjuang tanpa banyak suara. Mereka tidak menuntut lebih hanya ingin hidup sedikit lebih layak, dengan akses kesehatan dan jaminan kebutuhan pokok.
Di rumah berdinding papan itu, harapan masih ada. Meski rapuh, ia belum patah. (SNC)
Laporan: Romanis Sipayung

