SimadaNews.com-Pergerakan kurs rupiah kembali mencuri perhatian pasar keuangan pada awal pekan ini. Nilai tukar mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren tekanan yang sempat terlihat pada akhir pekan lalu.
Data terbaru yang tercatat hingga sesi pagi menunjukkan rupiah bergerak di kisaran Rp16.830 per dolar AS, turun tipis dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini menjadi sinyal awal dari kecenderungan pasar global yang masih didominasi oleh sentimen eksternal.
Analis pasar memperkirakan pelemahan rupiah berkaitan erat dengan penguatan dolar AS yang disebabkan oleh minat investasi terhadap aset aman, di tengah ketidakpastian arus modal dan dinamika kebijakan moneter internasional.
Di jalur perdagangan spot, tekanan pada rupiah mulai terlihat sejak pembukaan pasar pagi ini.
Sehari sebelumnya, pada perdagangan Jumat (27/2/2026), rupiah juga mencatat depresiasi dan berakhir pada level yang lebih rendah dibanding pekan sebelumnya, seiring peningkatan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed dan sentimen geopolitik global.
“Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan respons pelaku pasar terhadap penguatan indeks dolar AS, serta masih adanya aliran keluar modal asing yang menopang tekanan pada mata uang domestik,” ujar salah satu pengamat pasar uang kepada wartawan ekonomi.
Pernyataan tersebut menggambarkan dinamika yang sedang berlangsung di pasar valas domestik.
Di tengah pelemahan ini, pelaku pasar akan mengamati serangkaian data makroekonomi global dan sinyal kebijakan bank sentral AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Faktor-faktor tersebut dinilai kunci dalam menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya. (SNC)

