SimadaNews.com- Pasar logam mulia global kembali terguncang. Harga emas dunia tiba-tiba kehilangan tenaga pada perdagangan akhir pekan ini setelah tekanan kuat datang dari penguatan dolar Amerika Serikat dan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Logam mulia yang sebelumnya sempat bergerak naik di awal sesi perdagangan justru berbalik arah dan ditutup melemah cukup tajam.
Data pasar menunjukkan harga emas spot turun sekitar 1,2 persen ke level 5.076,59 dolar AS per ons pada penutupan perdagangan Kamis (5/3) waktu internasional.
Padahal di awal sesi, emas sempat menunjukkan reli dengan menyentuh kisaran 5.194,59 dolar AS per ons, sebelum akhirnya tekanan jual mendominasi pasar.
Tidak hanya emas fisik, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga ikut terkoreksi sekitar 1,1 persen menjadi 5.078,70 dolar AS per ons.
Investor Beralih ke Dolar
Tekanan terhadap emas dipicu oleh meningkatnya minat investor terhadap aset berbasis dolar.
Ketika dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik, logam mulia biasanya kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Fenomena ini membuat sebagian pelaku pasar memilih memindahkan dana ke aset yang lebih likuid seperti dolar AS.
Logam Mulia Lain Ikut Terseret
Gelombang koreksi tidak hanya menghantam emas. Beberapa logam mulia lain juga ikut melemah di pasar global.
- Perak turun sekitar 1,8 persen ke level 81,91 dolar AS per ons
- Platinum melemah 1,1 persen menjadi 2.125,10 dolar AS per ons
- Paladium bahkan merosot 2,4 persen ke posisi 1.634,15 dolar AS per ons
Analis: Fundamental Emas Masih Kuat
Meski mengalami tekanan jangka pendek, sejumlah analis menilai prospek emas belum sepenuhnya suram.
Bart Melek, analis komoditas, menyebut faktor struktural seperti membengkaknya defisit anggaran Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi global masih berpotensi menopang harga emas dalam jangka panjang.
Artinya, meskipun saat ini pasar logam mulia sedang tertekan, emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai yang penting ketika gejolak ekonomi global meningkat.
Dengan dinamika dolar yang terus menguat dan pasar obligasi yang semakin menarik, pergerakan emas dalam waktu dekat diperkirakan masih akan sangat fluktuatif. (SNC)

