SimadaNews.com-Pasar saham Indonesia mengalami guncangan tajam sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terperosok dalam-dalam, menghapus nilai kapitalisasi pasar hingga ribuan triliun rupiah hanya dalam beberapa hari perdagangan.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG ditutup melemah drastis 7,89 persen sepanjang periode perdagangan 2–6 Maret 2026. Indeks yang menjadi barometer pasar saham nasional itu parkir di level 7.585,68, turun dari posisi pekan sebelumnya di kisaran 8.235,48.
Penurunan tajam ini langsung berdampak pada nilai perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa. Kapitalisasi pasar BEI menyusut sekitar Rp1.160 triliun, dari sebelumnya Rp14.787 triliun menjadi Rp13.627 triliun.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa pelemahan indeks sejalan dengan turunnya aktivitas transaksi di pasar saham.
“Pergerakan IHSG selama sepekan melemah 7,89 persen menjadi 7.585,68,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian di BEI turun sekitar 16,64 persen menjadi Rp24,97 triliun, dari sebelumnya Rp29,95 triliun.
Selain nilai transaksi yang menyusut, tekanan juga datang dari arus dana investor asing.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan, investor luar negeri tercatat melakukan jual bersih (net sell) sekitar Rp263 miliar. Secara akumulatif sejak awal 2026, arus keluar dana asing bahkan mencapai Rp7,29 triliun.
Saham Big Caps Jadi Pemberat
Tekanan terhadap IHSG juga dipicu oleh koreksi tajam pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Beberapa emiten utama seperti AMMN, BBRI, hingga TLKM menjadi kontributor terbesar yang menekan pergerakan indeks selama sepekan terakhir.
Misalnya, saham AMMN tercatat merosot hampir 20 persen dalam sepekan, sementara saham-saham bank besar dan sektor telekomunikasi juga mengalami pelemahan signifikan.
Koreksi di saham-saham “kelas berat” ini otomatis menyeret indeks secara keseluruhan karena bobotnya besar dalam perhitungan IHSG.
Sinyal Volatilitas Pasar
Penurunan tajam ini menjadi pengingat bahwa pasar saham sangat sensitif terhadap sentimen global maupun pergerakan dana investor besar.
Dalam beberapa periode sebelumnya, IHSG juga sempat mengalami volatilitas tajam akibat perubahan sentimen global dan kebijakan indeks internasional yang memicu aksi jual di pasar domestik.
Meski demikian, analis pasar menilai kondisi seperti ini kerap menjadi fase koreksi yang lazim terjadi di pasar saham.
Investor biasanya akan mencermati stabilitas ekonomi, arus modal asing, serta kinerja emiten sebelum menentukan langkah berikutnya.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar kini menunggu apakah pekan depan IHSG mampu bangkit atau justru melanjutkan tekanan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. (SNC)

