SimadaNews.com- Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan ini. Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Senin (9/3/2026), dengan rentang yang diperkirakan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Data pasar menunjukkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah berada di kisaran Rp16.925 per dolar AS, turun sekitar 20 poin atau 0,12 persen.
Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik di tengah dinamika global.
Analis memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan berada di rentang Rp16.920 hingga Rp17.010 per dolar AS, dengan kecenderungan masih melemah.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari sentimen global, tetapi juga faktor domestik.
Ia menyoroti keputusan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan prospek ekonomi Indonesia dari stabil menjadi negatif sebagai salah satu pemicu kekhawatiran pasar.
“Perubahan outlook tersebut memicu kehati-hatian investor terhadap aset rupiah,” ujar Ibrahim.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau tidak seragam. Yen Jepang dan won Korea Selatan masih mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS. Sebaliknya, beberapa mata uang lain seperti rupee India dan ringgit Malaysia justru ikut terkoreksi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar valuta asing di kawasan sedang bergerak volatil, dipengaruhi oleh sentimen global, arus modal, serta ekspektasi kebijakan ekonomi negara-negara besar.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan.
Fluktuasi kurs berpotensi memengaruhi berbagai sektor mulai dari impor bahan baku, harga energi, hingga stabilitas pasar keuangan domestik.
Karena itu, pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan otoritas moneter serta perkembangan ekonomi global yang dapat menentukan arah rupiah dalam beberapa hari ke depan. (SNC)

