SimadaNews.com-Pemerintah akhirnya mengunci kepastian Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Melalui mekanisme sidang isbat yang digelar Kementerian Agama, 1 Syawal tahun ini ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menggabungkan dua pendekatan utama perhitungan astronomi (hisab) dan pemantauan langsung posisi bulan (rukyatul hilal) dari berbagai titik di Indonesia. Sidang isbat sendiri digelar pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.
Dalam prosesnya, laporan hasil rukyat dari seluruh Indonesia diverifikasi sebelum akhirnya diputuskan secara resmi oleh Menteri Agama.
Pemerintah menegaskan, metode ini menjadi rujukan nasional demi menjaga kepastian dan keseragaman ibadah umat Islam di Tanah Air.
Hilal Tak Memenuhi Kriteria, Ramadan Digenapkan
Penetapan 21 Maret bukan tanpa alasan. Berdasarkan data pemantauan, posisi hilal dinilai belum memenuhi kriteria visibilitas yang disepakati. Kondisi ini membuat pemerintah mengambil langkah istikmal, yakni menyempurnakan bulan Ramadan menjadi 30 hari.
Dengan demikian, Idul Fitri secara resmi jatuh sehari setelahnya.
Potensi Perbedaan dengan Muhammadiyah
Di sisi lain, keputusan ini membuka kemungkinan perbedaan dengan sebagian organisasi Islam.
Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan lebih dulu bahwa Lebaran 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab murni.
Perbedaan ini merupakan fenomena yang kerap terjadi di Indonesia, seiring penggunaan metode penentuan awal bulan Hijriah yang tidak selalu sama.
Pemerintah Imbau Masyarakat Jaga Kondusivitas
Pemerintah mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan dengan bijak dan tetap menjaga persatuan. Momentum Idul Fitri diharapkan menjadi ruang mempererat silaturahmi, bukan memperuncing perbedaan.
Dengan keputusan ini, masyarakat kini memiliki kepastian untuk merencanakan pelaksanaan salat Id, mudik, hingga agenda halal bihalal bersama keluarga. (SNC)

