SimadaNews.com-Pemerintah mulai menekan pedal kewaspadaan menghadapi tekanan ekonomi global yang kian tak menentu.
Sejumlah langkah antisipatif langsung disiapkan, dari penghematan lintas sektor hingga strategi menjaga daya tahan fiskal negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi lonjakan harga energi dan komoditas dunia yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, langkah efisiensi menjadi kunci agar Indonesia tetap berada di jalur aman.
Salah satu sektor yang mendapat perhatian serius adalah energi. Pemerintah mendorong percepatan transformasi pembangkit listrik berbasis diesel ke energi terbarukan, khususnya tenaga surya.
Kebijakan ini dinilai mampu memangkas biaya sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang harganya terus merangkak naik.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan langkah taktis untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM dan komoditas lainnya.
Produksi batu bara bakal ditingkatkan melalui penyesuaian rencana kerja, sementara kebijakan pajak ekspor komoditas tersebut tengah dikaji guna mendongkrak penerimaan negara.
Dalam upaya menekan konsumsi energi, pemerintah bahkan membuka opsi perubahan pola kerja. Skema bekerja dari rumah (work from home/WFH) satu hari dalam sepekan menjadi salah satu alternatif yang sedang dipertimbangkan.
“Ada penghematan dari segi mobilitas, konsumsi bensin bisa ditekan cukup signifikan,” ujar Airlangga.
Langkah ini bukan sekadar efisiensi jangka pendek. Pemerintah juga tengah memperkuat fondasi fiskal agar tetap tahan terhadap guncangan global. Skenario penghematan anggaran disiapkan untuk memastikan defisit tetap terkendali di tengah ketidakpastian geopolitik yang bisa berlangsung berbulan-bulan.
Tekanan global memang bukan ancaman kecil. Kenaikan harga minyak dunia hingga menembus di atas USD 100 per barel serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sinyal peringatan serius bagi perekonomian nasional.
Di tengah situasi ini, pemerintah memilih strategi ganda: menahan laju pengeluaran yang tidak produktif sekaligus mengoptimalkan sektor-sektor penghasil devisa.
Kombinasi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru.
Pesan yang ingin ditegaskan jelas: badai global boleh datang, tetapi mesin ekonomi Indonesia harus tetap berjalan dengan cara yang lebih hemat, adaptif, dan terukur. (SNC)

