SimadaNews.com-Suara keras datang dari jantung Gereja Katolik dunia. Paus Leo XIV akhirnya angkat bicara dengan nada yang tak lagi diplomatis: perang yang berkecamuk di Timur Tengah disebutnya sebagai “skandal kemanusiaan” yang tak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Dalam momen doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus menegaskan bahwa penderitaan yang terjadi bukan hanya tragedi regional, melainkan luka yang dirasakan seluruh umat manusia.
“Kita tidak bisa tetap diam di hadapan penderitaan begitu banyak orang,” ujar Paus, menyoroti korban sipil yang terus berjatuhan di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Nada seruan ini terasa berbeda. Tidak sekadar imbauan moral, tetapi tekanan terbuka kepada para pemimpin dunia agar segera menghentikan perang yang kini memasuki fase semakin berbahaya.
“Apa yang menyakiti mereka, menyakiti seluruh kemanusiaan,” lanjutnya, menegaskan bahwa dampak konflik telah melampaui batas negara dan identitas.
Paus juga mendesak agar gencatan senjata dilakukan secepat mungkin, sembari mengajak dunia untuk tidak berhenti berdoa demi terbukanya jalan damai.
Ia menilai, eskalasi yang terus terjadi hanya akan memperpanjang penderitaan dan memperbesar risiko konflik meluas.
Di belakang layar, tekanan Vatikan ternyata semakin nyata. Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, bahkan secara terbuka menyerukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk segera mengakhiri perang.
“Saya akan mengatakan: akhiri secepat mungkin… dan biarkan Lebanon tenang,” kata Parolin dalam pernyataan yang dinilai tidak biasa karena langsung menyasar kepala negara.
Langkah ini menandai perubahan pendekatan Vatikan yang selama ini dikenal lebih banyak bergerak secara diplomasi tertutup. Kini, seiring meningkatnya korban sipil dan ancaman konflik regional yang lebih luas, seruan terbuka dianggap sebagai sinyal darurat.
Kekhawatiran utama bukan hanya jumlah korban yang terus bertambah, tetapi juga potensi perang meluas yang bisa mengguncang stabilitas global.
Pesan Vatikan jelas: dunia tidak punya banyak waktu. Jika tidak segera dihentikan, konflik ini bukan hanya menjadi tragedi kawasan, tetapi krisis kemanusiaan berskala dunia. (SNC)

