SimadaNews.com-Tindakan yang diduga dilakukan oknum mengaku aparat intelijen di Sekretariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pematangsiantar, Jumat (7/5/2026), menuai kecaman keras dari organisasi tersebut. Kehadiran oknum itu disebut melakukan “wawancara” terkait isu “Pesta Babi” dan dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berorganisasi mahasiswa.
Ketua DPC GMNI Pematangsiantar, Nicolas Gurning, mengkritik metode pengawasan yang dianggap represif dan tidak profesional.
Menurutnya, sekretariat organisasi mahasiswa merupakan ruang diskusi intelektual yang tidak seharusnya dijadikan tempat interogasi terselubung.
“Sekretariat GMNI adalah rumah bagi kaum marhaenis untuk berpikir dan berjuang, bukan ruang interogasi. Jika ada oknum aparat datang tanpa surat tugas resmi dan melakukan pendataan tendensius, maka ini adalah bentuk ancaman terhadap kebebasan berorganisasi,” tegas Nicolas yang akrab disapa Bung Nucho.
Ia menilai narasi terkait film “Pesta Babi” yang dijadikan alasan wawancara merupakan bentuk stigmatisasi terhadap kegiatan kebudayaan yang dilakukan pemuda.
Menurutnya, situasi tersebut diduga menjadi bagian dari upaya sistematis untuk memantau serta membatasi gerakan kritis mahasiswa di Pematangsiantar.
“Kami menduga ada upaya menciptakan rasa takut di kalangan kader agar tidak lagi kritis terhadap isu-isu sosial. Intelijen seharusnya bekerja untuk keamanan negara, bukan mendatangi sekretariat mahasiswa untuk melakukan pendataan yang tidak relevan,” ujarnya.
GMNI Pematangsiantar juga menilai jika tindakan serupa terus terjadi, maka kondisi demokrasi di daerah tersebut berada dalam ancaman serius. Organisasi itu meminta pihak kepolisian dan pimpinan aparat keamanan memberikan peringatan kepada anggotanya agar bekerja sesuai koridor hukum serta menghormati hak asasi manusia.
“Aparat harus diberi peringatan agar tidak menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk masuk ke ranah privat organisasi. Pemuda dan mahasiswa harus tetap menjadi kontrol sosial yang bebas dari bayang-bayang teror intelijen,” katanya.
Sebagai organisasi yang mengusung ajaran Soekarno, GMNI Pematangsiantar mengajak seluruh elemen aktivis untuk tetap solid dan tidak takut menghadapi berbagai bentuk upaya pembungkaman.
“Mahasiswa harus tetap berani. Jangan sampai marwah gerakan kita runtuh hanya karena intimidasi-intimidasi kecil yang mencoba mengerdilkan nyali perjuangan,” tutup Bung Nucho. (SNC)
Laporan: Soemardi Sinaga

