SimadaNews.com – Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi dan Wakil Wali Kota Herlina disambut dengan tarian Somba Simalungun saat memasuki rumah dinas di Jalan MH. Sitorus, Senin (3/3).
Acara penyambutan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta berbagai organisasi kemasyarakatan.
Dalam prosesi adat, Ketua Partuha Maujana Simalungun (PMS) Kota Pematangsiantar, Jatinggi Purba, menyerahkan hio pamoting, gotong, serta bulang kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota sebagai simbol penghormatan dan dukungan terhadap kepemimpinan mereka.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pematangsiantar, Junadi, dalam sambutannya menyampaikan keyakinan bahwa di bawah kepemimpinan Wesly Silalahi dan Herlina, Kota Pematangsiantar akan menjadi lebih baik, dengan fokus pada pelayanan publik yang cerdas dan sehat.
Ketua DPRD Kota Pematangsiantar, Timbul Lingga, yang hadir bersama Kapolres, Ketua Pengadilan, dan Kepala Kejaksaan Negeri, menegaskan bahwa masyarakat telah menaruh harapan besar pada kepemimpinan Wesly Silalahi untuk membawa perubahan yang arif dan bijaksana bagi kota ini.
Kota Pendidikan yang Hilang
Dalam kesempatan tersebut, akademisi Prof. Sinaga menyoroti pentingnya mengembalikan Pematangsiantar sebagai kota pendidikan yang dikenal melahirkan banyak tokoh nasional.
“Anak-anak Siantar harus kembali menjadi generasi yang cerdas dan sehat. Pendidikan adalah kunci kemajuan kota ini,” ujarnya.
Wesly Silalahi sendiri mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Pematangsiantar saat ini.
Dia menyoroti berbagai masalah, seperti gunungan sampah, kondisi Pasar Horas, serta ketidakfungsian terminal yang ada.
Dia juga menyinggung RSUD Djasamen Saragih yang dinilainya belum optimal dibandingkan dengan rumah sakit swasta yang semakin berkembang.
“Saya melihat Kota Siantar ini dan air mata saya menetes. Saya terpanggil untuk membenahinya agar kembali seperti dulu, menjadi kota pendidikan,” ungkap Wesly.
Wesly bahkan mengungkapkan rencananya untuk mendirikan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Pematangsiantar.
Menurutnya, pembangunan jalan tol telah membuat Pematangsiantar kehilangan perannya sebagai kota transit, yang kini berisiko menjadi kota mati. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya sinergi dengan berbagai komunitas untuk menghidupkan kembali identitas kota ini.
“Saya ingin membuka ruang publik di rumah dinas ini, agar masyarakat bisa datang dan berdiskusi langsung. Kota ini butuh perubahan, dan perubahan itu harus kita wujudkan bersama,” tegas Wesly.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama dalam mengembalikan kejayaan Kota Pematangsiantar.
“Mari kita kembalikan marwah kota ini seperti dulu. Kantor Wali Kota terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi,” pungkasnya. (snc)
Laporan: Romanis Sipayung