SimadaNews.com – Penggerak Ekonomi Kerakayatan Dulur Ganjar Pranowo (DGP) Pri Kuntadi – akrab disapa Kunto – memotivasi pemberdayaaan ekonomi kerakyatan atau ekonomi keumatan kepada para relawan maupun masyarakat, dengan cara bertani organik, beternak organik serta berkoperasi.
“Upaya ini dilakukan untuk mendidik usaha perekonomian masyarakat (UPM) agar bekerja profesional yang menjadi kunci ekonomi mandiri relawan DGP,” kata Kunto.
Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Perkonomian Masyarakat (UPM) dinilai sebagai jalan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Sebab, saat ini keadilan sosial masih menjadi cita-cita dan belum terealisasi secara utuh.
“Keadilan sosial belum jadi kenyataan. Keadilan sosial terkait sila kelima, terkait demokerasi ekonomi juga sudah diatur sangat jelas dalam pasal 33 UUD 45 ayat 1, dikatakan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan pada asas kekeluargaan,” kata Ketua Umum DPP DGP, Raden Zieo Suroto dalam pertemuan dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Rabu (27/01/2021).
Pertemuan dihadiri inisiator Relawan DPW DGP Provinsi Yogyakarta, Sekar dan Ketua Penggerak Koperasi & UPM DGP, Pri Kuntadi, Lurah Beji, Ida dan anggota DPRD dari Partai Demokrat, Eko.
MENGEDUKASI PETANI
Dalam pertemuan tersebut, Kunto mengedukasi masyarakat petani khususnya terkait penanganan masalah kelangkaan pupuk yang jadi kendala di saat musim panen.
Kunto memberikan solusi untuk produksi sendiri membuat pupuk organik dengan cara memanfaatkan kotoran sapi dan kotoran kambing dengan konsep peternakan terpadu.
Terhadap edukasi tersebut, masyarakat petani sangat antusias menyambut program tersebut dan mudah-mudahan Desa Beji adalah desa pertama yang akan melakukan program tersebut untuk mengatasi kelangkaan pupuk subsidi dan sekaligus bisa menjadi tambahan penghasilan karena konsep dan manajemanya tersebut akan ditanganai koperasi DGP.
Selain masalah pupuk, juga dibicarakan bagaimana petani bisa menambah penghasilan dengan memanfaatkan lahan kosong untuk menanam porang dan pisang Cadwise yang panen hanya 9 bulan.
“Solusi yang saya sampaikan ini, supaya nilai ekonomi petani meningkat, karena hasil tersebut bisa di ekspor ke luar negeri melalui koperasi DGP,” kata Kunto yang juga menekankan agar para petani bisa mengkonsumsi makanan yang sehat atau organik.
BERTANI DAN BETERNAK ORGANIK
Pada kesempatan itu, Kunto juga mengedukasi masyarakat untuk bertani organik, bagaimana beternak ayam organik, serta beras organik.
Pembahasan yang hangat membuat petani mendapatkan ilmu bertani dan berternak organik sehingga terpacu dan mempunyai solusi tambahan penghasilan karena selama ini bertani turun menurun dan hanya umum pemahaman bertaninya.
Yang luar biasa lagi, dengan hasil beternak dan bertani organik, para petani tidak lagi repot memasarkannya karena yang akan membeli Koperasi DGP sendiri dengan cara membuat Outlet Warung Organik Seluruh Indonesi.
Salam DGP (Dahsyat Guyup Profesional), Mengumpulkan yang tercecer, Merapikan yang berserakan, Menjemput yang tertinggal #Memilih Pemimpin Negara Bersama DGP. (ingot simangunsong)