SimadaNews.com-Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Haji Djarot Syaifullah Hidayat-Sihar Sitorus, dinilai merupakan calon pemimpin yang terbilang bersih, teruji dan mapan. Sehingga pantas memimpin Sumut lima tahun ke depan.
Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Pemuda Jawa (DPP-PENDAWA) Sumatera Utara, Haji Ruslan saat berbincang-bincang dengan RGRNews (group simadanews.com) di berbagai kesempatan.
Haji Ruslan menuturkan, selama ini Haji Djarot dikenal merupakan pemimpin yang bersih dan sudah teruji ketika memimpin daerah seperti Kota Blitar dan DKI Jakarta.
Djarot dua periode memimpin Kota Blitar, dan berhasil membawa Kota Blitar maju dan berkembang. Bahkan, di Kota Kelahiran Presiden pertama di Indonesia Ir Soekarno itu, pelayanan publik dan sistim birokrasi selama dipimpin Haji Djarot, berjalan dengan baik.
Selanjutnya, pasca sudah tidak menjadi Walikota Blitar, Djarot karena dekat dengan masyarakat di Kota Blitar dan sekitarnya, terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019.
Karena dikenal memiliki trackrecord yang baik. Haji Djarot pun dipilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, menggantikan Basuki Tjahya Purnama yang naik level menjadi Gubernur DKI Jakarta pasca Joko Widodo terpilih menjadi presiden.
Tidak berlangsung lama, Haji Djarot juga menggantikan Basuki Tjahya Purnama menjadi gubernur.
“Jadi Haji Djarot memiliki sosok yang teruji. Bahkan sudah teruji menjalankan kepemimpinan dengan berbagai pengalamannya. Jadi karakter Haji Djarot pantas memimpin Sumut,” kata Haji Ruslan.
Selain Teruji, Haji Djarot juga dikenal menjadi pemimpin publik yang ‘Bersih’ sejak dulu. Dan kedua poin teruji dan bersih, sangat penting dalam memilih seorang calon kepala daerah, khususnya untuk Calon Gubernur Sumatera Utara.
“Berdasarkan akal sehat dalam memilih, kriteria ‘Teruji dan Bersih’ ini menjadi sangat penting bagi pemilih yang ingin memilih kepala daerah, gubernur, yang diharapkan akan membawa perubahan bagi kesejahteraan rakyat pemilih itu sendiri,” sebut Haji Ruslan.
Pria berkacamata ini mengungkapkan, khusus untuk Sumatera Utara, sudah dua kali gagal memilih pemimpin. Dan diharapkan, masyarakat Sumut tidak salah pilih lagi, supaya tidak terulang lagi kegagalan yang sama.
Saat menjadi penanggap saat Diskusi Solutif Gerakan Daulat Desa yang bertemakan “Bangkitnya Kedaulatan dan Martabat Rakyat dalam Demokrasi Pancasila, yang diselenggarakan di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/5/18) lalu, Haji Ruslan membeberkan fakta bahwa tingginya angka Golput di Sumut selama ini, yakni dalam lingkup kelompok masyarakat Jawanya, yang mencapai sekitar 2,5 juta orang pemilih dari 5 jutaan pemilih, merupakan salah satu faktor penyebab gagalnya warga Sumut untuk memilih pemimpin dimaksud.
Haji Ruslan menambahkan, selain ‘Teruji dan Bersih’ ada satu kriteria lagi yang dimiliki Haji Djarot, yaitu ‘Mapan. Mapan yang dimaksudnya merujuk pada kematangan jiwa kepemimpinan Haji Djarot yang telah ditempa oleh pengalamannya selama ini.
“Maka dari itu, kepada kita semua di sini saya juga berharap agar kriteria ‘Mapan’ yang saya contohkan dalam karakter bapak Haji Djarot Saiful Hidayat agar juga dipahami oleh semua pemilih yang mau bangkit berdaulat dan bermartabat di alam Demokrasi Pancasila kita. Mapan disini berarti Matang, jiwa yang Tenang, Kebapakan, Mengayomi, atau ‘Ngemong’ dalam bahasa Jawan,” papar Haji Ruslan.
“Kalau dulu kita warga Sumut sudah dua kali gagal, mbok ya jangan gagal lagi untuk yang ketiga kalinyalah. Malu kita. Dimana tanggung jawab kita pada anak cucu? Saat ini sudah jelas-jelas ada seorang pemimpin yang ‘Teruji, Bersih dan Mapan’ apalagi dulure dhewe, mosok ora semangat milih neng TPS?” imbaunya lagi. (*/snc)