SimadaNews.com-Stunting atau kondisi kekurangan gizi mengakibatkan tubuh kerdil masih menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah dari tahun ke tahun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani pada pengujung Januari lalu sempat bercerita, pernah dipermalukan pejabat Bank Dunia perkara tingginya angka stunting ini. Pengalaman itu terjadi bertahun silam saat ia menjabat direktur pelaksana Bank Dunia pada 2010-2016.
Upaya menurunkan stunting tersebut diakui Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebagai pekerjaan yang sukar. Apalagi target penurunan prevalensi stunting periode ini diminta menyentuh 14 persen.
“Ya itulah, karena target itu sangat emosional, 14 persen dari 27 persen itu bukan sesuatu yang mudah, karena itu kita harus bekerja keras,” kata Ma’ruf usai memimpin Rakor Penanggulangan Kemiskinan di Kantor TNP2K, Jakarta, Selasa 11 Pebruari 2020.
Sekalipun begitu Ma’ruf tetap memerintahkan para menterinya untuk bekerja keras mencapai target yang sudah dipatok pemerintah.
Saat ini tingkat stunting Indonesia sekitar 27,67 persen. Tapi Presiden Joko Widodo menginginkan angka ini bisa ditekan hingga 14 persen dari total angka kelahiran anak pada 2024.
Guna mencapai target itu, Ma’ruf meminta alokasi dana desa di seluruh Indonesia turut digunakan menyukseskan pencapaian target. Menurut dia, para menteri terkait pun telah sepakat untuk mengevaluasi ketepatan penyaluran dan pemanfaatan dana desa.
Karena itu ia merasa, perlu dilakukan inventarisasi kebutuhan di setiap desa terkait pemanfaatan anggaran. Tujuannya kata Ma’ruf, agar keperluan suatu desa sejalan dengan program penurunan prevalensi stunting.
“Kekurangannya apa, jangan sampai butuhnya ini, programnya yang lain, jadi kita sesuaikan, kita adjustment untuk nanti yang akan datang,” terang dia.
Ma’ruf juga mengingatkan, sudah bukan waktunya masing-masing instansi bekerja sendiri-sendiri. Antar-lembaga harus mampu berkoordinasi dengan optimal agar angka penurunan stunting mencapai target.
“Jadi tidak sama-sama kerja tetapi bekerja sama, yang pada ujungnya, semuanya itu ada di desa,” kata Ma’ruf. (snc)
Editor: Hermanto Sipayung