Catatan | ingot simangunsong wartawan simadanews.com
KOTA Turis Parapat, Kamis 13 Mei 2021, di saat umat Muslim merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1442 H dan umat Kristen merayakan hari Kenaikan Isa Almasih, pada pukul 17.00 WIB “diterjang” bencana longsor di kawasan Soalan, Nagori Sibaganding, dan banjir bandang “muntahan” dari Sungai Batu Gaga di Kota Parapat.
Saat terjadi bencana, muncul pemikiran bahwa hal itu terjadi diakibatkan perambahan atau penggundulan hutan.
Persis di atas areal terjadinya bencana, dengan ditarik garis pandangan mata ke atas, adalah yang terlihat Dolok (Bukit) Simarbalatuk, yang ketinggiannya sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl).
Bersama Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Dolok Simarbalatuk-Bangun Dolok, Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, yang diketuai Hotlen Manik dan Kepala Lingkungan III Bangun Dolok, Lindung Manik, Minggu (16 Mei 2021), kami putuskan untuk menyusuri dari mana titik air yang menjadi penyebab longsor dan banjir bandang itu.

Sebelum bergerak, Hotlen Manik mengajak kami berhenti di jembatan Sungai Batu Gaga yang berada di wilayah perkampungan Bangun Dolok yang berada di kaki Dolok Simarbalatuk.
“Dari sinilah (Sungai Batu Gaga), air yang mengalir sampai ke Kota Parapat, kemudian memasuki gorong-gorong yang terus mengalir ke Danau Toba,” kata Hotlen Manik.
Air yang demikian deras membawa lumpur, bebatuan dan gelondongan kayu, menurut Hotlen Manik, berasal dari Aek (mata air) Sigala-gala.
Namun, material bebatuan dan gelondong kayu yang masih berada di atas sana, belum terbawa. Jika itu terjadi, maka jembatan penghubung perkampungan Bangun Dolok ke pemukiman lainnya akan terputus dihantam bebatuan dan gelondongan kayu.
“Kemudian, akan lebih parah lagi bencana yang terjadi di sepanjang Jalan Sisingamangaraja,” katanya.
Sebelumnya, kami lebih dulu singgah di kawasan Soalan, Nagori Sibaganding yang diterjang longsor yang melintasi jalan pertapakan samping Gereja HKBP Soalan hingga menutup badan jalan.
Hotlen Manik menjelaskan, bahwa longsoran itu, berasal dari kawasan di bawah kaki Bukit Simarbalatuk, yang disebut sebagai kawasan hutan Partimbahoan.
“Kita akan menuju dua titik kawasan ini, dengan masa tempuh 3 jam, untuk memastikan bahwa bencana yang terjadi bukan karena adanya perambahan atau pengundulan hutan,” kata Hotlen Manik. (selanjutnya #2)