SimadaNews.com-Tingginya jumlah penderita gizi buruk di Kota Medan, mendapat perhatian serius dari Kombes Pol (Purn) Dr Maruli Siahaan SH MH.
Dr Maruli Siahaan meyakini, mewujudkan pelayanan kesehatan yang profesional, akan mengurangi jumlah penderita gizi buruk di Ibu Kota Provinsi Sumut itu.
“Sesuai data dari Dinas Kesehatan, sampai sekarang kasus gizi buruk masih tergolong tinggi. Kedepan bila mendapat amanah dari rakyat, kita fokus mengatasi gizi buruk, khususnya terhadap para anak-anak yang merupakan generasi penerus Bangsa,” kata Kombes Pol (Purn) Dr Maruli Siahaan SH MH, saat berbincang-bincang dengan SimadaNews, beberapa waktu lalu.
Mantan Kabida Hukum Polda Sumut ini menuturkan, dalam hal penanganan kasus gizi buruk, ada beberapa hal yang harus benar-benar diperhatikan. Sebab gizi buruk sangat kompleks.
Bisa saja, faktornya dari sisi ekonomi sehingga tidak bisa memenuhi gizi yang baik kepada anak-anak terutama bagi Bayi Lima Tahun (Balita).
Kemudian, dari sisi pendidikan orangtua memandang pentingnya gizi untuk anak-anak. Terutama dalam 1.000 hari kehidupan dari si bayi dalam kandungan hingga lahir.
Selain itu, juga menggalakkan air susu ibu secara eksklusif. Hal itu sangat berperan yakni menjalankan Inisiasi Menyusui Dini.
“Hal ini yang nantinya diberdayakan untuk berani berubah berani mengubah Kota Medan berubah menjadi yang berkualitas. Jika rakyat member amanah, dan rakyat mau berdaulat menuju Kota Medan Maju Dan Sejahtera, kita akan berikan yang terbaik,” katanya.
“Kita juga menyarankan supaya kaum ibu, tidak memprioritaskan pemberian susu formula untuk bayinya, terutama usia bayi hingga 6 bulan. Program menyusui, tentu akan menjadikan anak lebih sehat secara alamiah dan cerdas, karena memiliki ikatan bathin yang kuat dengan ibunya,” tambah Dr Maruli.
Dr Maruli Siahaan memaparkan, meminimalisir atau mengatasi gizi buruk, harus dilakukan dengan cara pendekatan langsung kepada masyarakat.
“Program yang akan saya canangkan, berdasarkan program Indonesia Sehat yang akan bekerjasama dengan pihak Rumah Sakit, Puskesmas, dan Klinik yang ada di seputaran wilayah Kota Medan sekitarnya,” ujarnya.
Dia menyebutkan, kasus gizi buruk harus dituntaskan secara terstruktur, masif dan sistematis. Tentunya, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang gizi buruk, terutama bagi orangtua yang sibuk bekerja, sehingga anaknya kurang pengawasan dengan baik.
“Jangan pernah kita padamkan harapan dan cita-cita anak-anak kita selaku aset Bangsa. Anak-anak harus kita perjuangkan selagi masih bisa diperjuangkan. Mereka juga ingin hidup sama seperti kita kelak untuk berkarya dalam menorehkan sejarah Bangsa ini,” ucap Maruli.
Cara yang paling ampuh, lanjut Dr Maruli, terus melakukan edukasi dan penyuluhan kepada setiap keluarga yang ada di 21 Kecamatan se-Kota Medan sekitarnya untuk mengantisipasi terjadinya gizi buruk.
“Di setiap puskemas, diberikan penyuluhan dan edukasi terutama kepada ibu-ibu tentang pentingnya mengolah gizi yang baik menggunakan makanan tambahan yang sehat,” pungkas Dr Maruli.
Dia mengungkapkan, salah satu komponen terpenting dalam pembangunan kesehatan adalah terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat, terutama pada periode 1.000 hari pertama Kehidupan.
Periode kehamilan hingga anak berusia 2 tahun, merupakan kesempatan emas dalam mencetak generasi berkualitas bebas stunting dan masalah gizi.
“Intervensi pada periode ini tidak boleh diabaikan, karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang,” jelasnya.
Dia beranggapan, di 21 kecamatan yang ada di Kota Medan, setidaknya haru ada 41 puskesmas dan 8 klinik Pusat Pemulihan Gizi (PPG).
Dia menambahkab, petugas yang ada di puskesmas dan klinik tersebut, haruslah siap sedia apabila ada informasi dari masyarakat tentang akan gizi buruk dan memberikan pelayanan yang baik dan profesional.
“Untuk penanganan gizi buruk harus masif atau terintergrasi dengan orang yang berkompeten di bidangnya. Apabila itun dijalankan dengan baik, kita meyakini gizi buruk bisa dituntaskan di Kota Medan,” pungkasnya mengakhiri. (snc)
Laporan: Rio Sinaga
Editor: Hermanto Sipayung


