• https://purepurepiano.main.jp/
  • https://aceh.lan.go.id/
  • https://academy.colorescience.com/
  • https://soundrivers.org/a-sound-river/
  • https://anais.anpur.org.br/
  • https://tutorias.tepexirguez.tecnm.mx/
  • https://bat4man.netopiere.sk/
Simada News
No Result
View All Result
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum
No Result
View All Result
Simada News
  • SMSI
  • News
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Kesehatan
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
HomeNewsEkbis

Cerita Seorang Petani di Kabupaten Simalungun, yang Hanya Percaya pada Bibit “Turunan”

Simadanews.comPenulis: Simadanews.com
28 Januari 2021 | 09:29 WIB
Rubrik: Ekbis
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

SimadaNews.com – BENAR kata pepatah orangtua, semakin banyak kita berjalan, maka semakin banyak yang dilihat, semakin banyak pula yang ditemui, dan semakin bervariasi juga informasi yang didapat.

Bersama seorang teman, Ober Saragih – yang sedang giat-giatnya peduli destinasi wisata – saya mengikuti sebuah perjalanan, survey hamparan persawahan yang membentang luas di bumi “Habonaran do Bona”, Kabupaten Simalungun, Rabu (27/01/2021).

Teman itu, sibuk memanjakan matanya pada keindahan hamparan persawahan yang luas dengan latar view jejeran bukit barisan, saya membangun komunikasi dengan petani yang sejak lajang (masih seorang diri, belum berkeluarga, waktu itu) sudah bertani, Liaman Damanik.

Ketika saya pancing pembicaraan dengan masalah bibit yang dipakai untuk padi sawah, petani itu mengatakan, bahwa dia lebih percaya dengan bibit “turunan.”

Yang dia maksud, melakukan pembibitan sendiri, ketimbang membeli bibit yang diproduk dari sejumlah perusahaan. 

SEMAKIN MERUMITKAN

Kenapa demikian? Petani itu, dengan bahasa lugasnya, mengibaratkan bahwa bibit yang diproduk perusahaan itu kan ajang bisnis. Setelah jual bibit, selanjutnya masuk penawaran obat anti hama, kemudian pupuknya.

Bermacam-macam produk bibit yang muncul sekarang ini. Dan, semuanya memperkenalkan obat-obatan sebagai turunan perawatan bibit pada masa musim tanam.

“Mana lagi, untuk mendapatkan pupuk non subsidi saja sudah sulit, apalagi mencari pupuk subsidi. Nah, bentuk penawaran dari perusahaan inilah yang sekarang muncul,” katanya.

Sebagai petani, dia merasa semakin rumit untuk menanam padi sawah.

JADI OBJEK BISNIS, HARGA TIDAK MENENTU

Kemudian, dia membuka cerita lain, tentang tanaman jagung. Menurut pengalamannya, dan masa tanam jagung di dekade sebelum datangnya bibit jagung dari perusahaan-perusahaan bisnis tersebut, tidak pernah dilakukan penyemprotan, karena hama sesungguhnya sangat sedikit ditemukan.

Sekarang, kata petani itu, ketika diperkenalkan bibit jagung yang katanya, bibit unggul, ya sama dengan bibit padi, sudah ada disiapkan obat anti hama, dan pupuk khusus produk perusahaan tersebut.

Nah, lagi-lagi petani jadi objek bisnis, dan yang memprihatinkan, bahwa biaya produksi, tidak sebanding dengan harga penjualan dari petani ke pasar.

“Untuk menghasilkan per rante 5 kaleng padi, kita harus mengeluarkan biaya produksi yang tidak sedikit, namun tiba masa panen, harga jual tidak menentu. Sementara harga pupuk dan obat hama, harus dibeli dengan harga berapa pun itu,” katanya.

BAGAIMANA DENGAN PPL PERTANIAN

Kemudian, kami berdialog tentang seberapa besar peranan dan fungsi Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian dalam memberikan bimbingan?

“Mana ada itu, mereka tidak berani berhadapan dengan petani, karena pertanyaan yang selalu disampaikan petani kepada mereka, ya tentang pengadaan pupuk bersubsidi. Mereka kan tidak dapat memberikan jawaban yang pasti terhadap ketersediaan pupuk,” katanya.

Jadi, pada prinsipnya, saudara petani yang saya temui tersebut, akan tetap bertahan dengan bibit “turunan” yang pembibitannya dipersiapkan di persawahannya. Yang perlu baginya, adalah pendistribusian pupuk bersubdisi maupun non subsidi yang ditata dengan baik. Tidak sulit didapatkan.

“Dengan cara seperti itu, hasil panen satu rante akan normal menghasil 5 kaleng padi. Kemudian harga penjualan dari petani ya tetap stabil, agar petani dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, kalau bisa sejahtera ya syukur,” katanya. (ingot simangunsong)

Ekbis

Simalungun Kian Dilirik Investor, Raih Penghargaan Terbaik I pada PIISU 2026

15 Juni 2026 | 11:39 WIB
Peristiwa

Wali Kota Tebing Tinggi Tekankan Nilai Persaudaraan dan Iman Saat Buka Pesparawi Sekolah Minggu GKPS Distrik V

14 Juni 2026 | 21:34 WIB
Peristiwa

Pematangsiantar Matangkan Persiapan FASI XIII Sumut, Siap Sambut Ribuan Peserta

14 Juni 2026 | 19:44 WIB
Peristiwa

Traffic Light Ahmad Yani Kembali Padam, Warga Desak Pemko Siantar Bertindak Sebelum Timbul Korban

14 Juni 2026 | 18:57 WIB
Sudut Pandang

19 Anggota Sidi GKPS Haranggaol Resmi Diteguhkan, Siap Menjadi “Tentara Kristus Muda”

14 Juni 2026 | 17:03 WIB
Pesona

Juara TOTK 2026 Naik Podium, Bupati Samosir dan Sekdaprovsu Serahkan Hadiah kepada Pelari dari 34 Negara

14 Juni 2026 | 16:17 WIB
Peristiwa

Tongam Pangaribuan Bantah Isu Suap Pansus Eks Rumah Singgah Covid-19, Siap Tempuh Jalur Hukum

13 Juni 2026 | 21:37 WIB
Peristiwa

Kasus Penganiayaan di Taman Bunga! DPD IPK Siantar Berduka untuk Korban, Serahkan Penanganan Kasus ke Penegak Hukum

13 Juni 2026 | 17:58 WIB
Tokoh

Ishak Hutasuhut Kembali Nahkodai Al Washliyah Pematangsiantar, Wesly Dorong Sinergi Umat dan Pemerintah

13 Juni 2026 | 14:37 WIB
Peristiwa

Sudah Bawa Motor untuk Kabur, Pencuri Timbangan di Siantar Utara Keburu Ditangkap

13 Juni 2026 | 11:57 WIB
  • Pedoman
  • Policy
  • Redaksi
  • Simada News

© 2018-2026 Simada News

rotasibarakberita hari inidanau tobasumber

No Result
View All Result
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum

© 2018-2026 Simada News

rotasibarakberita hari inidanau tobasumber