Aek Sigala-gala dan Penghijauan
Catatan | ingot simangunsong, wartawan simadanews.com
USAI melihat pertemuan dua aliran air di kawasan Partimbahoan, Muben Sinaga dan Tumpak kembali memandu kami untuk melanjutkan perjalanan melihat titik asal air berlumpur campur bebatuan dan gerondolan kayu yang disebut-sebut sebagai banjir bandang dari Sungai Batu Gaga yang mengalir ke arah Kota Turis Parapat.
Langkah kaki kami kembali ke kampung (huta) Bangun Dolok, dengan tujuan pada titik Aek Sigala-gala.
“Sebelum sampai perkampungan Bangun Dolok, nanti ada jalan pemotongan. Jalan pintas itu akan lebih mempercepat kita sampai ke kawasan Aek Sigala-gala,” kata Hotlen Manik.
TANAM POHON PENGHIJAUAN
Di sepanjang jalan — mencapai Aek Sigala-gala — saya pun mencari tahu, apa kira-kira rencana Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Dolok Simarbalatuk-Bangun Dolok, yang dipimpin Hotlen Manik, pasca longsor Sualan, Nagori Sibaganding dan banjir Sungai Batu Gaga?
Hotlen Manik pun memaparkan, pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Asahan-Barumum yang berkantor di Kota Pematangsiantar.
“Kami sudah membicarakan tentang rencana menanam pohon untuk penghijauan di kaki Dolok Simarbalatuk. Jika tidak ada rintangan, bulan Juli mendatang akan dilaksanakan. Pihak balai sudah memberi sinyal di bulan Juli ada bibit,” kata Hotlen Manik.
Penghijauan di kaki Dolok Simarbalatuk itu — tinggal koordinasi dengan Camat Girsang Sipangan Bolon — untuk memastikan berapa hektar atau dari batas nagori mana ke nagori mana yang akan dilakukan penghijauan.
“Ini terkait berapa banyak bibit yang akan dimohonkan ke balai tersebut, serta berapa massa yang akan dikerahkan untuk menanam pohon. Kita mau sekalian sosialisasi gagasan Bupati Kabupaten Simalungun, Radiapoh Hasiholan Sinaga tentang marharoan bolon atau gotong royong,” kata Hotlen Manik.
Itu gagasan menarik dari Kelompok Darwis Dolok Simarbalatuk-Bangun Dolok yang memiliki kepedulian terkait pelestarian hutan di sekeliling perkampungan mereka.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli kondisi ini. Kita tidak ingin Danau Toba sebagai kawasan wisata skala prioritas akan tergerus karena longsoran dan banjir,” kata Hotlen Manik.

AEK SIGALA-GALA
MUBEN Sinaga mengingatkan kami, bahwa kawasan Aek Sigala-gala sudah dekat.
Benar! Suara desiran air mengalir mulai kedengaran. Semakin mendekat, semakin keras suara desirannya.
Begitu sampai, terus terang, saya merasa terperangah melihat banyaknya bebatuan besar serta bebatuan sedang mau pun kecil, juga patahan kayu yang berserakan.
Tempat kami berdiri, saat tiba di lokasi Aek Sigala-gala, sebelumnya adalah kebun kopi milik warga. Tetapi, kebun itu sudah rata ditutupi lumpur serta bebatuan.
Kemudian, menurut Hotlen Manik, alur air dari atas, sebelumnya mengalir pada sisi kanan, dengan alur yang tidak lebar. Namun, saat kami melihat, alur aliran Aek Sigala-gala sudah selebar kebun yang tertutup, diperkirakan mencapai lebar 15-20 meter.
“Dari sinilah, asal air yang mengalir ke Sungai Batu Gaga yang disebut-sebut sebagai banjir bandang,” kata Kepala Lingkungan III Bangun Dolok, Lindung Manik.

Setelah melihat Aek Sigala-gala dan sebelumnya di kawasan Partimbahoan, semakin menguatkan apa yang disebutkan Hotlen Manik, bahwa tidak ada perambahan hutan.
“Sepengetahuan saya, sejak orangtua kami membuka pemukiman di kampung Bangun Dolok, kawasan ini merupakan kawasan hutan yang dilindungi. Pohon-pohon pinus yang kita lihat, Belanda yang menanam, tidak diperbolehkan menebang pohon. Jangankan menebang, memanfaatkan yang tumbang oun, tidak diperbolehkan. Jadi kawasan ini, sampai ke puncak Dolok Simarbalatuk, masih hutan murni, dan pengawasan warga sangat ketat,” kata Lindung Manik, yang baru beberapa bulan dilantik sebagai kepala lingkungan dari hasil pemilihan langsung oleh warga.
Kemudian, kami lanjutkan untuk naik ke ketinggian 250 meter di atas bebatuan besar. Tujuan kami, untuk melihat bekas ketinggian air, serta lebar kolam penampungan air yang debitnya cukup besar.
Di depan kami, membentang dinding batu dengan lebar mencapai 25 meter dengan tinggi mencapai 8 meter. Di tempat inilah luberan air dengan debit besar ditampung. Karena derasnya terjangan air, pengikisan pun terjadi.
“Kita masih bersyukur kepada Tuhan, karena aliran air masih bisa melintas di bawah jembatan yang menghubungkan lingkungan lain ke perkampungan Bangun Dolok. Jika bebatuan besar yang kita lihat di Aek Sigala-gala ini, terbawa air, bisa saja jembatan putus, dan air yang menerjang Kota Parapat akan lebih besar dengan lumpur serta material batu-batuan yang besar,” kata Hotlen Manik.

SUNGAI BATU GAGA DIKERUK, DILEBARKAN DAN PERIKSA GORONG-GORONG
Dewi Butar-butar — seorang janda dengan 4 anak — adalah warga yang terkena musibah banjir bandang dengan kerusakan rumah 80 persen, dan kini tidak punya tempat istirahat karena lumpur dengan ketinggian sepinggang orang dewasa itu merusak seisi rumahnya.
Bahkan, usaha sarapan pagi yang sudah puluhan tahun ditekuninya, terpaksa tidak diteruskan.
“Steling, peralatan rusak, bagaimana mau berjualan. Bulan Agustus 2020 terjadi juga seperti ini, tetapi yang parah kali bulan Mei 2021 ini. Kami tidak dapat menyelamatkan apa pun. Keluar dari rumah saja, saya terbawa arus deras,” katanya.
Apa harapan Dewi Butar-butar? “Kami berharap pemerintah melakukan pengerukan dan melebarkan Sungai Batu Gaga, agar mampu menampung debit air lebih besar. Kemudian, membantu keluarga saya agar kembali dapat tempat tinggal yang layak dan dapat berjualan lagi,” katanya.
Yang tidak kalah penting, adalah pemerintah memeriksa gorong-gorong pembuangan air menuju ke Danau Toba, kata Dewi Butar-butar.
Menurut Hotlen Manik, kejadian serupa pernah dialami warga Sualan dan Kota Parapat di tahun 2018, Agustus 2020 dan terkahir 13 Mei 2021.
“Untuk menghindari agar kejadian serupa tidak terulang, penghijauan terhadap kawasan hutan lindung Dolok Simarbalatuk perlu digerakkan. Kemudian mencari titik-titik kumpulan air di sekujur tubuh Dolok Simarbalatuk, untuk dapat dilakukan pengalihan atau dimanfaatkan sebagai sumber air minum kebutuhan warga,” kata Hotlen Manik. (habis #3)