SimadaNews.com – Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan kunjungan kerja ke Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, untuk mempelajari Program Kios Segoro Amarto yang terbukti efektif mengendalikan inflasi di wilayah tersebut.
Kunjungan dilakukan sekaligus meninjau langsung kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Yogyakarta yang menjadi salah satu TPID Berprestasi Tahun 2025.
Rombongan Pemko Pematangsiantar mendatangi Kios Segoro Amarto di Pasar Beringharjo, kawasan Malioboro, sebagai salah satu lokasi strategis pemantauan harga dan ketersediaan bahan pangan.
Inflasi Pematangsiantar Capai 4,08 Persen
Dalam paparannya, Wali Kota Wesly menjelaskan bahwa inflasi Kota Pematangsiantar per November 2025 mencapai 4,08 persen, dengan puncaknya terjadi pada September ketika Pematangsiantar masuk dalam daftar 10 kota dengan inflasi tertinggi di Indonesia.
Kelompok pengeluaran yang paling berkontribusi terhadap inflasi mencakup makanan, minuman, dan tembakau khususnya komoditas cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
“TPID Kota Pematangsiantar telah bergerak cepat dalam merespons tingginya inflasi,” ujar Wesly.
Beragam Langkah Pengendalian Inflasi
Sejumlah strategi 4K terus digencarkan, antara lain Operasi pasar dan pasar murah rutin, Gerakan Pangan Murah, Pemantauan harga kebutuhan pokok, Monitoring stok dan distribusi pangan dan Penguatan Toko Pengendalian dan Pantau Inflasi (Toppis) yang kini berjumlah 11 unit
Selain itu, Pematangsiantar menjadi satu-satunya daerah di Sumatera Utara yang memiliki Kios Pangan untuk menjaga stabilitas harga terutama di kawasan pinggiran.
TPID juga melakukan contract farming penanaman cabai merah bersama kelompok tani, penguatan Pekarangan Pangan Lestari, serta perbaikan saluran irigasi tersier.
Kerja sama antar daerah turut dilakukan, termasuk dengan Kabupaten Batubara sebagai sentra cabai merah.
Upaya-upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan tercatatnya deflasi 0,31 persen pada Oktober dan 0,11 persen pada November.
Meski demikian, Wesly mengakui masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Karena itu, pihaknya ingin mendalami strategi TPID Yogyakarta yang masuk nominasi TPID Award 2025 untuk wilayah Jawa–Bali.
Yogyakarta Jadi Rujukan Pengendalian Inflasi
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan SE MM, mengucapkan selamat datang kepada Wali Kota Wesly beserta rombongan.
Ia turut menyampaikan rasa prihatin atas bencana yang melanda beberapa wilayah Sumatera.
Wawan menerangkan bahwa Yogyakarta sebagai acuan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan destinasi wisata utama selalu menghadapi lonjakan permintaan, terutama menjelang periode libur akhir tahun.
Karena itu, pemantauan harga dan pasokan rutin dilakukan di dua titik utama Pasar Beringharjo dan Gudang Indomarco Prismatama sebagai barometer stabilitas harga.
“Kedua lokasi ini memberikan gambaran nyata mengenai suplai barang, stabilitas harga, dan kelancaran distribusi,” ujarnya.
Kios Segoro Amarto dan Warung Mrantasi
Wawan menjelaskan bahwa Kios Segoro Amarto merupakan inovasi yang ditempatkan di pasar-pasar tradisional sebagai rujukan harga kebutuhan pokok dan instrumen pengendali inflasi. Selain itu, Yogyakarta memiliki program Warung Mrantasi (Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi) yang menggerakkan pedagang untuk peduli dan terlibat aktif dalam pengendalian inflasi.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, ia mengimbau para pedagang maupun pemasok agar tidak menaikkan harga secara tidak wajar.
“Jika terjadi kenaikan di rantai pasok, buatlah penyesuaian harga yang wajar dan tidak memberatkan konsumen,” pesannya.
Wali Kota Wesly berharap kunjungan ini memberikan wawasan baru bagi TPID Kota Pematangsiantar dalam memperkuat strategi pengendalian inflasi.
“Semoga melalui pembelajaran dari TPID Yogyakarta, kami dapat meningkatkan efektivitas langkah pengendalian inflasi di Pematangsiantar,” ujarnya. (SNC)

