SimadaNews.com – Pasca pemberitaan terkait dugaan ratusan batang kelapa sawit terbakar di Areal Afdeling (Afd) 1 Unit Kebun Laras, pihak manajemen akhirnya angkat bicara.
Asisten Personalia Kebun (APK) Unit Kebun Laras, Dody Tisnamijaya Syahputra, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa peristiwa tersebut masih dalam tahap penyelidikan internal.
“Untuk saat ini masih diinvestigasi, dan untuk posisi yang sangat mengetahui itu adalah Afdeling,” ujarnya.
Saat ditanya terkait dugaan penyebab kebakaran, Dody menyebut kemungkinan adanya kelalaian dari pihak yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
“Kemungkinan kelalaian dari orang sekitar yang lewat di tempat tersebut,” katanya.
Ketika diperjelas apakah yang dimaksud masyarakat desa sekitar, ia menjawab singkat, “Ya bang.”
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Asisten Afdeling 1 Unit Kebun Laras, Ronni Hasibuan. Ia menegaskan bahwa tidak benar terdapat ratusan batang sawit yang terbakar.
“Kalau yang ratusan pokok terbakar nggak mengetahui dimana lokasinya bang. Ada areal yang terbakar di Afd 1, tapi nggak sampai ratusan bang. Laporan dariku ke atasanku sudah kubuat bang,” ujarnya tanpa merinci jumlah pasti tanaman yang terdampak.
Sementara itu, Sinaga, salah seorang tokoh masyarakat Nagori Dolok Parmonangan, menyayangkan pernyataan APK yang dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Menurutnya, meskipun tidak secara langsung menyebut warga Dolok Parmonangan sebagai pihak yang lalai, lokasi kebakaran yang berdekatan dengan perladangan warga dapat memicu persepsi negatif.
“Memang tidak disebut warga Dolok Parmonangan, tapi lokasi terbakar itu berdekatan dengan ladang warga. Bukan berarti yang membakar itu warga. Bisa saja ada oknum yang sengaja ingin memancing konflik antara pihak kebun dengan masyarakat yang berbatasan langsung,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan sistem pengamanan di areal kebun.
“Pihak kebun kan punya security. Di mana security saat kebakaran itu terjadi?” tambahnya.
Lebih lanjut, Sinaga menilai hubungan antara pihak kebun dan masyarakat belakangan kurang harmonis.
Ia menyoroti kebijakan yang disebut melarang agen pengangkut buah sawit warga masuk menggunakan truk ke wilayah kebun.
“Semenjak Manajer Arfi Damayanti, seperti ada upaya memancing konflik dengan warga. Sekarang kami harus melangsir buah kelapa sawit menggunakan sepeda motor karena agen sudah disurati dan dilarang masuk menggunakan truk. Akibatnya biaya operasional kami bertambah,” jelasnya dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Kebun Laras masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab kebakaran serta jumlah pasti tanaman yang terdampak. (SNC)
Laporan: Darwin Sinaga

