Sore itu, di sebuah sudut sanggar yang sederhana, suara musik tradisional Simalungun terdengar pelan.
Beberapa anak muda berlatih gerak tari dengan langkah masih ragu. Di antara mereka, Sultan Saragih berdiri tenang tidak memberi instruksi keras, hanya mengamati, sesekali tersenyum, lalu membetulkan posisi tangan seorang penari muda.
Bagi Sultan, momen-momen kecil seperti itu adalah cara budaya bertahan: diwariskan perlahan, dari hati ke hati.
Dari Sanggar Kecil ke Panggung Kehidupan
Lahir di Yogyakarta, 23 April 1975, Sultan tumbuh dalam suasana yang akrab dengan tradisi Simalungun di Pematangsiantar.
Masa kecilnya diwarnai latihan di Sanggar Simadasi, tempat ayahnya, almarhum JP Saragih, menghidupkan seni bersama para murid.
Di sana, ia tidak hanya belajar musik dan tari, tetapi juga memahami bahwa seni adalah bahasa perasaan sekaligus cara merawat identitas.
Kenangan masa kecil itu menjadi akar yang terus menahan langkahnya agar tidak tercerabut dari budaya sendiri.
Saat kuliah di Yogyakarta, ia memperkaya diri dengan teater di kampus. Panggung modern memberinya perspektif baru, namun tidak pernah membuatnya melupakan asal-usul.
Justru, di kota pelajar itu, ia semakin yakin bahwa seni tradisi memiliki ruang besar untuk berkembang.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan bekerja di perantauan, Sultan memilih pulang ke Pematangsiantar.
Kepulangan itu bukan sekadar kembali ke kampung halaman, melainkan pulang ke panggilan hidup.
Debut sebagai sutradara “Opera Sisimangaraja XII” pada 2012 di Jakarta menjadi salah satu titik penting. Ia merasakan bagaimana seni tradisi bisa berdiri di panggung besar tanpa kehilangan ruhnya.
Sejak itu, karya demi karya lahir, dari pementasan teater tradisional hingga kolaborasi lintas budaya.
Namun bagi Sultan, panggung paling penting bukanlah gedung pertunjukan megah, melainkan ruang latihan sederhana tempat generasi muda belajar mencintai tradisi.
Rayantara: Rumah Kecil yang Menyimpan Mimpi Besar
Sanggar Budaya Rayantara menjadi ruang di mana Sultan menanamkan harapan. Ia memilih pendekatan persuasif dalam melatih, menciptakan suasana hangat namun tetap disiplin.
Ia percaya seni tidak bisa dipaksa, ia harus tumbuh dari rasa.
Di sanggar itu, ia belajar arti kesabaran. Ia melihat anak-anak yang awalnya canggung perlahan menemukan kepercayaan diri.
Ia menyaksikan remaja yang nyaris menjauh dari budaya akhirnya kembali bangga mengenakan kostum adat.
Perjalanan sepuluh tahun membangun sanggar bukan tanpa luka. Sultan menggambarkannya sederhana.
Tujuh tahun penuh perjuangan, tiga tahun menikmati hasil. Ada masa keterbatasan biaya, minim fasilitas, bahkan keraguan dari banyak pihak. Namun semua itu tidak memadamkan keyakinannya.
Kini, jejaring, pengakuan, dan dukungan mulai berdatangan. Namun baginya, keberhasilan terbesar adalah ketika murid-muridnya tetap bertahan dan terus berkarya.
Menjadi Guru, Sahabat, dan Penjaga Nilai
Bagi para murid, Sultan bukan sekadar pelatih. Ia adalah sahabat diskusi, pendengar, sekaligus pengingat bahwa setiap gerak tari membawa pesan leluhur.
Ia mengajarkan teknik, tetapi juga nilai: hormat, tanggung jawab, dan kesadaran akan identitas.
Ia sering berpesan bahwa seniman tradisi harus konsisten dan total, namun juga perlu memiliki keterampilan lain agar mampu bertahan.
Baginya, kemandirian adalah fondasi agar komunitas seni tidak mudah rapuh.
Pendekatan itu membuat sanggar terasa seperti keluarga ruang tumbuh bersama, berbagi cerita, dan menemukan jati diri.
Budaya sebagai Jalan Memahami Diri
Kepada generasi Z, Sultan selalu menyampaikan pesan sederhana: budaya bukan beban masa lalu, melainkan sumber kebijaksanaan hidup.
Di dalam tradisi, ia melihat nilai-nilai yang mampu memperkaya akal budi, membuka ruang refleksi, dan memberi arah perjalanan hidup.
Ia menyebutnya sebagai mutiara kehidupan nilai yang tidak lekang oleh waktu, yang bisa menuntun seseorang tetap teguh di tengah perubahan.
Perjalanan Sultan Saragih mungkin tidak selalu ramai sorotan. Namun di setiap tarian yang kembali dipentaskan, di setiap bahasa daerah yang kembali diucapkan, dan di setiap anak muda yang menemukan kebanggaan pada identitasnya, jejak itu terasa nyata.
Dari sanggar kecil hingga panggung nasional, dari latihan sederhana hingga kolaborasi lintas daerah, ia terus menenun ingatan kolektif masyarakat Simalungun.
Langkahnya pelan, namun menyala.
Dan selama masih ada ruang latihan yang dipenuhi suara musik tradisional, selama masih ada generasi muda yang belajar dengan mata berbinar, perjuangan itu akan terus hidup.
Sebab bagi Sultan, menjaga budaya bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah cara mencintai masa lalu, merawat masa kini, dan menyalakan masa depan. (SNC)

