SimadaNews.com– Di tengah geliat pengembangan destinasi berbasis desa, satu titik wisata air di Kabupaten Simalungun perlahan kembali mencuri perhatian.
Berada di Nagori Karang Anyer, Kecamatan Gunung Maligas, kawasan pemandian alami ini menawarkan kombinasi unik antara cerita legenda, wisata keluarga, hingga harga tiket yang sangat terjangkau.
Destinasi yang dikenal sebagai Desa Wisata Pemandian Karang Anyer disebut memiliki sejarah panjang. Nama Karang Anyer sendiri bermakna “perkarangan baru”, sementara sumber airnya diyakini berasal dari aliran mata air Bah Pamujian yang konon pernah menjadi lokasi ritual masyarakat tempo dulu dan terhubung dengan kawasan Danau Toba.
Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi ikon wisata air lokal sejak era 1970-an dan masih bertahan sebagai pilihan rekreasi masyarakat hingga sekarang.
Wisata Rakyat dengan Harga Bersahabat
Daya tarik utama Karang Anyar terletak pada pemandian alami yang bisa dinikmati pengunjung dengan tiket mulai sekitar Rp2.000.
Murahnya biaya masuk membuat tempat ini dikenal sebagai wisata rakyat yang ramah kantong namun tetap menawarkan pengalaman alam.
Tak hanya kolam pemandian, pengelola desa juga menambahkan berbagai wahana hiburan keluarga, mulai dari bumper boat, ATV anak, camping ground, hingga sepeda air.
Atraksi sederhana tersebut menjadi magnet bagi pengunjung lokal yang ingin rekreasi singkat tanpa harus bepergian jauh.
Jejak Alam dan Cerita Ratusan Tahun
Selain wahana, lanskap alami desa turut memperkaya pengalaman wisata. Di sekitar sumber air berdiri pohon beringin berusia ratusan tahun yang diyakini menjadi bagian dari sejarah terbentuknya pemandian tersebut. Kehadiran elemen alam ini menambah nuansa sakral sekaligus eksotis bagi wisatawan.
Fasilitas Desa Wisata Terus Bertambah
Sebagai desa wisata berstatus kategori “maju”, Karang Anyar telah dilengkapi beragam fasilitas pendukung, mulai dari area parkir, balai pertemuan, kafe, musholla, hingga spot foto dan jalur tracking ringan.
Infrastruktur tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus memperpanjang lama kunjungan.
Pengembangan Karang Anyer menunjukkan pola khas wisata desa: memadukan kekuatan alam, sejarah lokal, dan partisipasi masyarakat.
Paket wisata sederhana seperti kuliner tradisional, homestay, hingga produk camilan desa menjadi peluang ekonomi baru bagi warga setempat.
Dengan akses yang relatif mudah dan biaya yang ramah di kantong, Pemandian Karang Anyer kini dipandang sebagai salah satu alternatif rekreasi keluarga di kawasan Simalungun.
Di tengah persaingan destinasi modern, kekuatan cerita lokal dan kesederhanaan pengalaman justru menjadi nilai jual yang tak tergantikan.
Karang Anyar bukan sekadar tempat mandi alam. Ia adalah potret bagaimana desa kecil menjaga sumber air, merawat cerita leluhur, sekaligus membuka pintu ekonomi melalui pariwisata berbasis masyarakat. (SNC)

