SimadaNews.com- Kisah seorang polisi lalu lintas di Kota Malang kembali menyita perhatian publik. Bukan karena prestasi di lapangan, melainkan pilihan hidup yang tak biasa yakni tetap memulung barang bekas demi menjaga integritas selama bertugas hingga masa pensiun.
Bripka (Purn) Seladi, mantan anggota Satuan Lalu Lintas Polresta Malang Kota, dikenal luas sebagai figur polisi yang teguh menolak praktik suap saat menjalankan tugas sebagai penguji Surat Izin Mengemudi (SIM).
Posisi yang dinilai rawan gratifikasi itu justru menjadi ruang pembuktian komitmennya pada kejujuran.
Memulung demi Hidup Halal
Di tengah godaan amplop dari pemohon SIM yang ingin diluluskan tanpa prosedur, Seladi memilih jalan berbeda.
Sejak masih aktif berdinas, ia mengumpulkan kardus, botol plastik, dan barang bekas sebagai pekerjaan tambahan.
Baginya, penghasilan sederhana dari memulung jauh lebih menenteramkan dibanding uang yang tidak jelas asal-usulnya.
“Semua peserta ujian SIM yang lulus saya luluskan sesuai kemampuan. Kalau tidak lulus, saya minta ikut ujian lagi,” ujar Seladi, menegaskan komitmennya menolak suap dan menjaga keselamatan pengguna jalan.
Aktivitas itu bukan sekadar simbol perlawanan terhadap gratifikasi, tetapi juga upaya memenuhi kebutuhan keluarga.
Dari hasil memulung, ia memperoleh tambahan sekitar Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per hari, yang digunakan untuk menopang ekonomi rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.
Dicibir, namun Tetap Teguh
Pilihan menjadi pemulung kerap memancing cibiran. Seladi pernah dianggap merendahkan profesi polisi karena pekerjaannya identik dengan tumpukan sampah.
Namun ia menegaskan, pekerjaan apa pun tidak hina selama dilakukan secara jujur dan halal.
Ia bahkan mengaku menolak bentuk gratifikasi sekecil apa pun, termasuk traktiran kopi dari pemohon atau rekan kerja, karena khawatir menimbulkan rasa “utang budi” yang berujung kompromi integritas.
“Bukan menolak rezeki, tapi saya cari yang halal saja. Itu lebih menenangkan,” kata Seladi.
Seladi pensiun pada 2017, namun kebiasaan memulung tidak berhenti. Aktivitas tersebut masih ia jalani hingga kini sebagai bagian dari gaya hidup sederhana sekaligus simbol konsistensi terhadap nilai kejujuran.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa integritas aparat penegak hukum tidak selalu lahir dari jabatan tinggi atau sorotan publik, tetapi dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten.
Di tengah isu korupsi yang kerap mencoreng institusi, figur seperti Seladi menghadirkan narasi berbeda kesederhanaan yang justru memancarkan keteladanan. (SNC)

