SimadaNews.com- Kilau emas dunia memudar di awal pekan. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga emas di pasar spot tercatat melemah cukup dalam setelah tekanan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi kembali menghantam pasar logam mulia.
Data pasar menunjukkan harga emas spot berada di kisaran US$5.070–US$5.080 per troy ons pada perdagangan pagi, turun hampir dua persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Penurunan ini menandai perubahan sentimen investor yang sebelumnya menjadikan emas sebagai aset aman. Kini, pasar mulai berhitung ulang setelah penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global.
Secara teknikal, data perdagangan juga menunjukkan harga emas sempat bergerak di sekitar US$5.089 per ons atau sekitar US$163 per gram pada perdagangan pagi waktu Asia.
Dolar AS Menguat, Emas Kehilangan Daya Tarik
Tekanan terhadap emas muncul ketika indeks dolar AS menguat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini biasanya membuat investor beralih ke aset berbasis dolar dibanding logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk menyimpan emas.
Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, menilai kombinasi dua faktor tersebut menjadi pemicu utama koreksi harga emas.
“Kenaikan imbal hasil obligasi dan dolar AS biasanya menekan minat investor terhadap emas,” ujarnya.
Geopolitik dan Inflasi Masih Membayangi
Meski turun, volatilitas emas diperkirakan masih tinggi. Pasar global saat ini dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi dan memicu inflasi.
Lonjakan harga minyak dunia di atas US$110 per barel akibat konflik di kawasan tersebut juga menambah kekhawatiran inflasi global, yang dalam jangka panjang justru bisa kembali mendorong minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Harga Emas Domestik Ikut Bergerak
Di pasar dalam negeri, fluktuasi harga emas dunia ikut mempengaruhi harga logam mulia. Pada awal pekan ini, harga emas batangan berada di kisaran sekitar Rp3 juta per gram, dengan potensi bergerak fluktuatif mengikuti arah pasar global.
Analis pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut peluang penguatan masih terbuka jika harga emas dunia mampu menembus level resistance tertentu.
“Apabila harga emas dunia naik di resistance pertama US$5.229 per troy ons, kemungkinan logam mulia bisa berada di sekitar Rp3,095 juta per gram,” ujarnya.
Investor Diminta Waspada
Dengan dinamika dolar, suku bunga, serta konflik geopolitik yang masih berkembang, analis menilai pergerakan emas dalam waktu dekat akan tetap sangat sensitif terhadap sentimen global.
Artinya, meski emas sempat terkoreksi di awal pekan, peluang rebound tetap terbuka jika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik kembali memanas. (SNC)


