SimadaNews.com– Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mencuri perhatian pasar pada perdagangan Selasa (10/3/2026).
Setelah sempat berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda mulai menunjukkan tanda pemulihan pada awal perdagangan hari ini.
Data pasar menunjukkan rupiah bergerak menguat tipis terhadap dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada di sekitar Rp16.886 per dolar AS, menguat sekitar 63 poin atau 0,37 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.949 per dolar AS.
Penguatan ini membuat rupiah kembali menjauh dari batas psikologis Rp17.000 per dolar yang sempat tersentuh pada perdagangan sebelumnya. Kendati demikian, volatilitas masih membayangi pasar valuta asing.
Berdasarkan data pasar global, nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa pagi juga tercatat berada di kisaran Rp16.888 per dolar AS, menunjukkan pergerakan yang masih fluktuatif namun cenderung stabil.
Sentimen Global Jadi Penentu
Pergerakan rupiah kali ini dipengaruhi perubahan sentimen global. Melemahnya indeks dolar AS serta meningkatnya optimisme pasar terkait meredanya tensi geopolitik internasional menjadi faktor yang memberi ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis senior StoneX, Matt Simpson, menilai kondisi pasar mulai berubah dari fase kekhawatiran menuju optimisme yang lebih terukur.
“Sentimen pasar berbalik dari fase kepanikan menuju optimisme yang hati-hati,” ujarnya, merujuk pada harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Pasar dinilai tetap sensitif terhadap berbagai perkembangan global, termasuk dinamika geopolitik dan pergerakan harga energi dunia.
Dunia Usaha Tetap Waspada
Di sisi lain, pelaku usaha masih mencermati perkembangan kurs dengan hati-hati. Fluktuasi nilai tukar dapat berdampak langsung pada biaya produksi, khususnya bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.
Tekanan terhadap rupiah juga sempat muncul akibat meningkatnya sikap kehati-hatian investor global yang cenderung memilih aset yang lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.
Untuk sementara, pasar menilai rupiah masih akan bergerak dinamis dalam kisaran Rp16.900 hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS, sembari menunggu sentimen baru dari data ekonomi global maupun kebijakan moneter negara besar.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan tetap fluktuatif, namun masih memiliki peluang untuk menguat jika tekanan eksternal mereda. (SNC)

