SimadaNews.com–Tekanan terhadap mata uang kawasan Asia kembali terasa pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Nilai tukar Rupiah harus mengakhiri hari di zona merah setelah ditutup pada level Rp16.893 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya Dolar Amerika Serikat yang mendapat dorongan dari lonjakan harga energi serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Sejak awal sesi perdagangan, rupiah sebenarnya sudah bergerak di wilayah negatif.
Mata uang Indonesia itu dibuka di kisaran Rp16.887 per dolar AS sebelum akhirnya turun tipis dan menetap di Rp16.893 per dolar AS pada penutupan pasar sore hari.
Tekanan terhadap rupiah bukan terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga mengalami nasib serupa seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global. Investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.
Salah satu pemicu utama datang dari lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent dilaporkan melonjak hingga sekitar US$96,84 per barel atau naik lebih dari 5 persen.
Kenaikan tajam harga energi tersebut ikut memperkuat indeks dolar AS yang naik ke kisaran 99,41. Kombinasi faktor ini menjadi tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga memperparah situasi pasar. Konflik yang meningkat menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama dari jalur perdagangan penting seperti Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung mengurangi risiko dan beralih ke dolar AS.
Di tengah kondisi tersebut, analis menilai pergerakan rupiah masih akan sangat sensitif terhadap dinamika global.
Selama ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi masih tinggi, fluktuasi nilai tukar diperkirakan tetap terjadi di pasar keuangan kawasan.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas mata uang domestik tidak hanya ditentukan faktor internal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh gejolak ekonomi dan politik dunia yang terus bergerak cepat. (SNC)

