SimadaNews.com- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan ini.
Mata uang Indonesia tercatat bergerak di kisaran Rp16.900 per dolar Amerika Serikat, bahkan sempat mendekati level psikologis Rp17.000 seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Data pasar menunjukkan rupiah sempat ditutup di sekitar Rp16.906 per dolar AS, melemah dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah dominasi dolar AS yang terus menguat terhadap mayoritas mata uang Asia.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipicu sentimen eksternal ketimbang kondisi fundamental ekonomi domestik.
Penguatan dolar AS terjadi karena ekspektasi suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat, yaitu Federal Reserve.
“Selama suku bunga AS masih tinggi, aliran modal global cenderung kembali ke aset dolar sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar seorang analis pasar uang dalam laporan riset terbaru.
Selain faktor kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik internasional juga turut memicu volatilitas pasar. Konflik di kawasan Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global dan mendorong penguatan dolar sebagai aset safe haven.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian pasar. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak berpotensi menghadapi tekanan tambahan pada neraca perdagangan ketika harga energi global meningkat.
Meski demikian, otoritas moneter Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral Indonesia, Bank Indonesia, diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing serta menjaga stabilitas likuiditas guna meredam gejolak nilai tukar.
Beberapa indikator ekonomi domestik juga masih menunjukkan kondisi yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5 persen dengan tingkat inflasi yang masih terkendali, sehingga dinilai mampu menjadi penopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah.
Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan moneter global dan langkah lanjutan otoritas domestik.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS sambil menunggu kepastian kondisi ekonomi global. (SNC)

