SimadaNews.com–Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pasar global. Mata uang Garuda diproyeksikan masih berpotensi melemah hingga menembus kisaran Rp17.050 per dolar Amerika Serikat, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu ketidakpastian ekonomi global.
Pada penutupan perdagangan awal pekan ini, rupiah tercatat melemah dan bergerak mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Tekanan tersebut muncul seiring meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan strategis, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia mengatakan, situasi geopolitik yang memanas membuat pasar keuangan global berada dalam kondisi “risk-off”, di mana investor mengurangi aset berisiko dan memperkuat kepemilikan dolar AS.
“Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan masih berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.050 per dolar AS,” ujarnya.
Konflik Timur Tengah Picu Efek Domino Ekonomi
Ketegangan geopolitik tersebut juga berdampak pada pasar energi global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran gangguan distribusi minyak dunia, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi global.
Lonjakan risiko geopolitik membuat harga minyak dunia meningkat dan menimbulkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini biasanya diikuti penguatan dolar AS serta tekanan pada mata uang negara berkembang.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga tengah menunggu arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dinilai akan menentukan pergerakan dolar global dalam waktu dekat.
Sejumlah ekonom memperkirakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan cenderung fluktuatif karena ketidakpastian global belum mereda.
Tekanan dari harga minyak, arus modal global, hingga dinamika geopolitik menjadi faktor yang membuat pasar keuangan bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan internasional.
Jika konflik global terus meningkat dan harga energi tetap tinggi, bukan tidak mungkin tekanan terhadap rupiah akan semakin besar dalam beberapa waktu ke depan.
Dalam situasi seperti ini, stabilitas pasar keuangan domestik sangat bergantung pada respons kebijakan otoritas moneter serta sentimen investor terhadap ekonomi Indonesia. (SNC)

