SimadaNews.com-Di tengah tekanan global yang kian memanas, Bank Indonesia (BI) memilih memainkan strategi bertahan.
Ruang untuk memangkas suku bunga kini praktis “ditutup”, demi satu tujuan utama: menyelamatkan nilai tukar rupiah dari tekanan pasar internasional.
Dalam Rapat Dewan Gubernur terbaru, BI menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Keputusan ini bukan tanpa alasan.
Gejolak global mulai dari konflik geopolitik hingga arus modal asing yang berbalik arah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas rupiah.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan kebijakan ini diambil untuk memperkuat pertahanan ekonomi nasional. Fokus utama saat ini bukan lagi mendorong pelonggaran, melainkan menjaga agar rupiah tidak semakin tertekan di tengah ketidakpastian global.
“Kebijakan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Rupiah Tertekan, Suku Bunga Tak Bisa Turun
Data pasar menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih kuat. Nilai tukar sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS, dipicu meningkatnya risiko global dan keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik.
Dalam situasi seperti ini, menurunkan suku bunga justru berisiko memperparah pelemahan rupiah. Ekonom menilai, langkah pelonggaran moneter bisa membuat investor menarik dananya, sehingga tekanan terhadap mata uang semakin dalam.
Karena itu, BI memilih menahan suku bunga sambil mengoptimalkan instrumen lain, seperti intervensi di pasar valuta asing dan penguatan operasi moneter.
Dari “Masih Ada Ruang” ke “Rem Mendadak”
Menariknya, beberapa waktu lalu BI sempat memberi sinyal masih ada peluang penurunan suku bunga pada 2026. Namun dinamika global berubah cepat. Kini, opsi tersebut praktis dikunci sementara waktu.
Perubahan arah ini menunjukkan BI tengah menghadapi dilema klasik:
menjaga pertumbuhan ekonomi atau mempertahankan stabilitas rupiah.
Strategi Bertahan di Tengah Badai
BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan mulai dari intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, hingga menjaga daya tarik investasi di instrumen rupiah.
Langkah ini diharapkan mampu menahan gejolak nilai tukar, menjaga kepercayaan investor dan tetap menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
Dengan kondisi global yang belum stabil, arah kebijakan BI ke depan diperkirakan masih akan bernuansa defensif. Artinya, penurunan suku bunga bukan prioritas dalam waktu dekat setidaknya sampai tekanan terhadap rupiah benar-benar mereda. (SNC)

