SimadaNews.com- Di tengah mulai bergulirnya musim panen di sejumlah wilayah Sumatera Utara, Perum Bulog bergerak cepat.
Hingga pertengahan Maret 2026, ribuan ton gabah petani telah diamankan untuk menjaga harga tetap stabil dan stok pangan tetap terkendali menjelang momentum besar Ramadan dan Idulfitri.
Data terbaru menunjukkan, Bulog Sumut telah menyerap sedikitnya 10.600 ton gabah kering panen dari petani. Jika dikonversi, jumlah itu setara dengan sekitar 5.382 ton beras yang siap masuk rantai distribusi pangan.
Pemimpin Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menegaskan langkah ini bukan sekadar penyerapan biasa, melainkan bagian dari strategi besar menjaga keseimbangan pasar.
“Dari total 10.600 ton gabah itu, jika dikonversikan ke beras menjadi sekitar 5.382 ton,” ujarnya.
Serapan Difokuskan di Sentra Produksi
Penyerapan gabah dilakukan di sejumlah lumbung padi utama Sumut, seperti Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, hingga Batu Bara.
Tiga daerah pertama disebut menjadi kontributor terbesar dalam fase awal.
Namun, Bulog belum berhenti. Gelombang panen berikutnya diperkirakan datang dari wilayah lain seperti Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, hingga Padang Lawas Utara yang diproyeksikan akan mendorong lonjakan serapan pada April mendatang.
Harga Dijaga, Petani Dilindungi
Dalam operasi ini, Bulog tetap mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen di tingkat petani.
Kebijakan ini menjadi kunci di satu sisi menjaga daya beli petani, di sisi lain menahan gejolak harga beras di pasar.
“Gabah yang dibeli akan dimanfaatkan untuk bantuan pangan, program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), hingga cadangan saat bencana,” jelas Budi.
Target Besar 62 Ribu Ton
Meski capaian awal sudah menembus puluhan ribu ton, angka tersebut baru sebagian kecil dari target tahunan. Bulog Sumut menargetkan total penyerapan mencapai 62.718 ton gabah sepanjang 2026.
Artinya, kerja besar masih menanti terutama menghadapi puncak panen yang diprediksi berlangsung hingga Mei.
Sinyal Kuat Jaga Stabilitas Pangan
Langkah agresif Bulog ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak ingin kecolongan dalam menjaga stabilitas harga beras, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Apalagi, penyerapan gabah lokal juga menjadi bantalan penting agar petani tidak terpukul saat panen raya—ketika harga biasanya rawan jatuh.
Di sisi lain, Bulog juga mengingatkan petani untuk memanen tepat waktu agar kualitas gabah tetap optimal.
“Petani kami imbau segera panen jika sudah waktunya, agar hasil maksimal,” kata Budi.
Dengan kombinasi percepatan serapan dan kesiapan distribusi, Bulog kini berada di garis depan menjaga keseimbangan: petani terlindungi, stok aman, dan harga tetap terkendali. (SNC)

