SimadaNews.co-Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menunjukkan taji. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mata uang Garuda justru menguat, didorong oleh kabar baik dari dalam negeri surplus neraca perdagangan yang terus menanjak.
Data terbaru menunjukkan, surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencapai 1,27 miliar dolar AS, naik dari bulan sebelumnya sebesar 0,95 miliar dolar AS. Kinerja ini menjadi amunisi penting bagi stabilitas rupiah di pasar keuangan.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menegaskan bahwa penguatan rupiah tidak lepas dari tren positif tersebut.
Ia menyebut, “surplus perdagangan meningkat… ditopang oleh penurunan impor migas,” yang turut memperkuat posisi eksternal Indonesia.
Tak hanya itu, konsistensi surplus juga menjadi sorotan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah membukukan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sebuah capaian panjang yang memperlihatkan daya tahan ekonomi nasional.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Februari 2026, surplus telah mencapai 2,23 miliar dolar AS, ditopang terutama oleh sektor nonmigas yang tetap solid di tengah tekanan global.
Dari sisi domestik, faktor lain turut memperkuat sentimen positif. Inflasi Maret 2026 tercatat melandai ke 3,48 persen (yoy), semakin mendekati target Bank Indonesia. Kondisi ini memberi ruang stabilitas tambahan bagi nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia pun melihat tren ini sebagai sinyal kuat.
“Surplus yang terus berlanjut menunjukkan kondisi sektor eksternal Indonesia tetap solid,” ujar pejabat BI dalam keterangan resminya.
Dengan kombinasi surplus perdagangan yang berkelanjutan dan inflasi yang terkendali, rupiah kini tidak hanya bertahan tetapi mulai menunjukkan daya dorong baru. Di tengah tekanan global, Indonesia mengirim pesan tegas fondasi ekonominya masih kokoh. (SNC)

