TANGGAL 23 September 2018, gendrang kampanye para calon legislatif mulai ditabuh. Mereka dalam rentang waktu 6 bulan akan bergerilya dari pintu ke pintu, dari lorong ke lorong dan dari desa/lurah ke desa/lurah lainnya, untuk jual kecap “politik” menggoda para pemilih.
Target para calon legislatif itu, ya untuk mendapatkan rasa simpatik para pemilih, dengan harapan suara mereka diperuntukkan kepada si calon legislatif.
Setiap hari dalam kurun waktu 6 bulan, ratusan calon legislatif didampingi tim sukses dan pemenangannya baik itu pagi hari, siang dan malam bahkan sampai tengah malam, akan berdramaturgi di depan masyarakat di daerah pemilihan masing-masing.
Para calon legislatif itu, akan mempertontonkan sahwat politik mereka. Tentu saja, dengan cara dan kemampuan mereka masing-masing.
Bermacam tutur kata akan mereka sampaikan. Ada yang benar-benar tulus ingin membangun makanya mencalonkan diri menuju “Rumah Legislatif”. Dan ada yang merasa di atas angin, karena punya kemampuan logistik finansial yang kuat dan buanyak.
Ada yang mengandalkan paranormal untuk mendapatkan kekuatan tambahan alias doping supranatural.
Hiruk pikuk nyanyian para calon legislatif ini, menjadi sebuah parade tontonan yang menarik, karena tidak hanya dinikmati gratis. Karena juga, di setiap dramaturgi yang dipertontonkan para calon legislatif itu, para calon pemilih mendapatkan suguhan hiburan, makanan dan uang lelah serta bingkisan (yang semua besaran nilainya sudah diatur penyelenggara pemiihan umum).
Adakalanya juga, para calon pemilih di kurun waktu 6 bulan menjelang Pemlihan Legislatif 17 April 2019, akan bertemu dengan berbagai tampilan fisik calon legislatif yang dapat mengundang tawa, rasa iba dan rasa-rasa lainnya.
Mereka dalam kacamata keawaman, seakan menjelma sebagai badut politik, dengan mempertontonkan kemampuan permainan sulapnya. Janji-janji politik, itu sudah menjadi materi pokok yang tidak pernah berubah di sepanjang terselenggaranya pemilihan legislatif. Tidak menepati janji politik pun, sudah hal biasa bagi calon legislatif yang moralnya rendahan.
Sebagai pemilih calon legislatif, wajar merasa bingung untuk menetapkan satu pilihan dari ratusan calon yang tampil berbadut ria. Apalagi, suguhan berita di sejumlah media massa, sudah ratusan anggota legislatif yang dipenjarakan KPK karena terlibat tindak pidana korupsi.
Tapi, pesan dari Gerakan Daulat Desa dan Rumah Gotong Royong yang diinisiasi Gus Solah, Buya Syafii Maarif, Abdon Nababan dan Sabar Mangadoe, masyarakat pemilih JANGAN GOLPUT.
Tetaplah ke TPS untuk menentukan pilihan. Dengan datang ke TPS, kita sudah berperan menyelamatkan kertas suara kita agar tidak dimanfaatkan untuk permainan curang para begundal yang sahwat politiknya tidak normal.
Kemudian, mari dengan tegas TOLAK POLITIK UANG, yang sangat menyesatkan alur pikir kita dalam menetapkan pilihan. Politik uang, juga akan menyesatkan para calon legislatif ke dalam kubangan korupsi, karena dia akan lebih memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang tersebut.
Mari menjaga para badut politik dengan JANGAN GOLPUT dan TOLAK POLITIK UANG. Hati nurani, akan lebih jernih atau lebih bening, dalam mengarahkan pilihan yang benar. (*)
Penulis adalah penggerak Rumah Gotong Royong (@RGR) Sumut dan Inisitor PenaJokowiCenterConnection