PARA politisi busuk dan penjahat politik–di gelaran serentak pesta demokrasi Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 17 April 2019, akan membangun jaringan hingga ke pedesaan dalam upaya menghalalkan praktik politik uang (money politic).
Para politisi busuk dan penjahat politik yang haus kekuasaan itu, tidak peduli dengan apa yang disebut pemilihan umum yang lugas, bersih, adil dan bermartabat.
Slogan itu bukanlah hal terpenting dari perjuangan para politisi busuk dan penjahat politik. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana mendulang suara sebanyak mungkin, dengan cara apa pun.
Salah satunya, ya itu tadi, politik uang. Dengan mengiming-imingkan besaran rupiah untuk satu suara, para politisi busuk dan penjahat politik itu akan merasa nyaman untuk memenangkan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif.
Para politisi busuk dan penjahat politik ini, adalah gerombolan manusia tak bermoral, yang rela mengotori tangan sendiri untuk sahwat politik seorang calon Presiden/Wakil Presiden mau pun calon anggota legislatif yang dijagokannya.
Sasaran empuk para politisi busuk dan penjahat politik ini, terkhusus adalah para pemilih di pedesaan.
Para pemilih pedesaan yang boleh dikatakan minim informasi tentang politik, dan merasa tidak begitu penting untuk lebih banyak bersentuhan dengan panggung politik, menjadi komoditas yang punya nilai khusus untuk disentuh para politisi busuk dan penjahat politik.
Jika kita masih tetap mengacu pada penyelenggaraan pemilihan umum yang bersih, maka menjadi sangat penting membangun benteng-benteng yang dapat melindungi para pemilih pedesaan dari para politisi busuk dan penjahat politik. Hal itu, berkaitan dengan tidak semakin leluasanya pergerakan praktik politik uang.
Para pemilih pedesaan, mau tidak mau harus disentuh sebaik mungkin dengan muatan program yang berdayaguna. Sentuhan yang sangat manusiawi, adalah sekaitan dengan kemandirian ekonomi masyarakat di pedesaan.
Kesenjangan masalah perekonomian, menjadi pintu masuk yang demikian mengangah bagi ujaran kebaikan mau pun ujaran kebencian.
Agar ujaran kebencian—yang kemudian mengental dengan politik uang–tidak sebebas-bebasnya merasuki kehidupan masyarakat pedesaan, maka ujaran kebaikan harus lebih mendominasi dan menguat dalam tatanan peradaban masyarakat pedesaan.
Walau pun alokasi Dana Desa sudah dikucurkan dengan jumlah yang lumayan besar, namun pelaksanaan pembangunan desa belumlah seperti yang diharapkan.
Seperti yang diungkapkan Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian Pedesaan (PSP3) Institut Pertanian Bogor (IPB), Harianto, bahwa strategi pembangunan ekonomi yang berdasarkan pada pembangunan pertanian dan pedesaan memerlukan tiga elemen penting, yaitu:
A. Pertumbuhan produktivitas melalui perubahan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kelembagaan.
B. Peningkatan permintaan domestik terhadap produk pertanian.
C. Diversifakasi aktivitas-aktivitas di luar pertanian yang intensif tenaga kerja yang secara langsung mau pun tidak langsung mendukung dan didukung komunitas pertanian.
Komunitas pertanian ini, menjadi sangat penting untuk diberdayakan dalam meningkatkan masa depan masyarakat di pedesaan.
Dengan menguatnya komunitas pertanian, tingkat kemandirian sumber daya manusia di pedesaan pun semakin menggembirakan. Kemandirian sumber daya manusia pedesaan akan sangat berkaitan dengan semakin meningkatnya produktivitas hasil pertanian.
Peningkatan produktivitas akan berdampak pada penguatan kemandirian perekonomian masyarakat pedesaan. Menguatnya perekonomian, juga menguatkan daya tahan untuk menolak politik uang dari para politisi busuk dan penjahat politik.
Siapa yang berperan untuk ini? Tentu saja, yang pertama adalah pemerintah. Setelah itu, adalah lembaga-lembaga bentukan yang peduli masyarakat desa, seperti Gerakan Daulat Desa (GDD) dengan program @Rumah Gotong Royong (RGR) yang diinisiasi Gus Solah, Buya Syafii Maarif, Abdon Nababan dan Sabar Mangadoe.
GDD dengan program @Rumah Gotong Royong-nya, dapat berperan dalam penguatan identitas dan integritas masyarakat pedesaan, agar tidak gampang diombang-ambing pergerakan politisi busuk dan penjahat politik dengan politik uangnya.
Mari bersama-sama membentengi masyarakat pedesaan–khususnya–agar tidak jadi sasaran empuk praktik politik uang para politisi busuk dan penjahat politik di Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 17 April 2019.(*)
Penulis adalah Penggerak Rumah Gotong Royong (@RGR) Sumut dan Inisiator Pena Jokowi Centre Connection