SimadaNews.com-Buta Data adalah kelemahan medasar bangsa kita. Semoga di era Jokowi ke-2 nanti, bila menang lagi masalah ini bisa diperbaiki, agar produsen dan Penebar hoax dan fitnah semakin tak mempan membodoh-bodihi dan menipu masyarakat. Terutama di pesta demokrasi seperti Pemilu.
Hal itu disampaikan, Ketua Umum Gerakan Daulat Desa (@GDD) Sabar Mangadoe, saat berbincang-bincang dengan SimadaNews.com, di Markas GDD Jalan Pancoran Timur, Jakarta, Selasa (23/10).
Menurut alumnus ITB ini, hal buta data disebabkan dua masalah utama, yakni, birokrat dan politisi busuk serta pengusaha hitam memainkan data untuk kepentingan pribadi dan kroninya.
“Ini sering disebut dengan istilah KKN,” tegas Sabar.
Kedua, lanjut inisiator Rumah Gotong Rotong (@RGR) ini, yakni budaya baca atau literacy skill rakyat kita yang amat sangat rendah. Pendidikan nasional gagal total. Terbukti, Indonesia peringkat 60 dari 61 Negara yang diriset oleh UNESCO PBB Tahun 2016, masih kalah dengan masyarakat Arab Saudi, apalagi dengan Malaysia.
“Buta data, buta sejarah dan buta politik, adalah kelemahan mendasar dari bangsa kita yang paripurna. Kronis dan akut,” sebutnya.
Sabar berpendapat, masalah buta data, buta sejarah dan buta politik, harus mendesak dan segara diatasi dengan langkah dan strategi berupa Road Map 15 Tahun. Sehingga bonus demografi yang akan terjadi mulai Tahun 2030 dapat menjadi keuntungan, bukan malah bencana dalam perjalanan sejarah masa depan bangsa untuk mencapai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Sabar mengemukakan, GDD mengusulkan, agar Pemerintahan Presiden Jokowi yang kedua nanti, bila menang, merumuskan Program Road Map 15 Tahun Buta Data – Buta Sejarah – Buta Politik sebagai bagian dari Nawacita ke-2. (manto/snc)