• https://purepurepiano.main.jp/
  • https://aceh.lan.go.id/
  • https://academy.colorescience.com/
  • https://soundrivers.org/a-sound-river/
  • https://anais.anpur.org.br/
  • https://tutorias.tepexirguez.tecnm.mx/
  • https://bat4man.netopiere.sk/
Simada News
No Result
View All Result
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum
No Result
View All Result
Simada News
  • SMSI
  • News
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Kesehatan
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
HomeNewsEkbis

Sepeda Bambu, Ide Kreatif Desa Kandangan

Simadanews.comPenulis: Simadanews.com
9 Mei 2021 | 09:48 WIB
Rubrik: Ekbis
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

 

 

SimadaNews.com – Tiga orang terlihat asyik mengayuh sepeda. Mengenakan pakaian olah raga, mereka memacu sepedanya. Sesekali mereka berjajar, lalu ngobrol. Lalu masing masing memacu lagi. Menjajal medan datar, menanjak memasuki kawasan hutan bambu.

Sekilas, tak ada yang berbeda dengan sepeda yang mereka gunakan. Namun saat kita pelototi, ternyata ada hal unik dengan sepeda itu. Sepeda itu bukanlah sepeda berkerangka besi melainkan berkerangka bambu. Bambu? Ya bambu.

Sepeda itu bermerek Spedagi. Adalah Singgih Susilo Kartono yang menggagas pembuatan sepeda berbahan bambu itu. Ia bukan pemuda biasa. Dia adalah alumnus program desain Institut Teknologi Bandung (ITB).

Singgih bercerita, ide membuat sepeda berkerangka bambu berawal ketika dia menemukan foto sepeda bambu di internet yang dibuat oleh orang Amerika, Craig Calfee.

“Saya merasa tertampar karena sebagai seorang sarjana desain dan melihat di sekitar rumah banyak tumbuh bambu justru tidak melakukan apa-apa atas sumber daya yang melimpah itu,” kata dia.

Di desanya, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, pohon bambu memang melimpah. Para pemilik bambu itu biasanya menjual seharga Rp 50.000 perbatang. Sangat murah, memang.

Mulailah pada 2013 Singgih mencoba membuat sepeda berkerangka bambu. Tidak langsung jadi memang. Awalnya ia menggunakan bambu utuh. Diameter yang dipilih kecil namun kuat. Mirip seperti gagang sapu.

Sepeda generasi pertama itu terlihat besar, kasar, dan cukup sulit menyatukan karena diameter tidak selalu sama.

Tak putus asa, dia menjajal lagi. Kali ini ia beralih menggunakan bilah bambu. Dia pakai bambu petung yang terkenal kuat, besar, dan mudah didapat. Rangka bambu itu disambung dengan logam dan resin. Kali ini hasilnya lumayan.

Dari sebatang bambu petung usia dewasa, Singgih mampu membuat lima hingga tujuh kerangka sepeda. Sebuah lompatan nilai tambah dari bambu yang sering dianggap bahan alam biasa. “Bambu itu material masa depan,” kata Singgih.

Bambu yang semula dihargai murah, karena ide kreatif Singgih naik derajat. Setelah menjadi rakitan sepeda, kala itu, harganya minimal Rp 3,5 juta hingga Rp 60 juta.

Untuk mengerjakannya, ia menggunakan tenaga lokal di desanya. Pengerjaannya butuh waktu yang tak sebentar. Satu sepeda bambu perlu enam hari kerja karena sepeda itu dibuat dengan manual, bukan produksi massal.

Spedagi memiliki beberapa varian. Ada Spedagi Dwiguna (dual track) yang dirancang untuk bersepeda di jalan pedesaan maupun kota. Spedagi Dalanrata (road bike) khusus untuk jalan yang mulus. Spedagi Gowesmulyo (joy bike) untuk perkotaan dengan jarak pendek, dan Spedagi Rodacilik (minivelo) yang menggunakan ban berdiameter kecil yang juga cocok untuk jalan perkotaan.

Salah satu produk Spedagi buatan Singgih ini pernah dijajal Presiden Joko Widodo pada 12 Januari 2019.

Merek Spedagi merupakan akronim atau singkatan dari sepeda pagi. Penamaan itu tak lepas dari kebiasaan yang dilakukan Singgih saat di desa. Setiap pagi ia selalu bersepeda. Kadang ditemani sang istri, Tri Wahyuni, atau kerabat dekat. Mereka  bersepeda pagi menyusuri jalanan desa dengan bersepeda.

Kebiasaan bersepeda ini, kata dia setengah bercana, “gara-gara kolesterol.”

Sepeda bambu terasa nyaman dikendarai karena bambu sesungguhnya merupakan material penyerap getaran terbaik dibanding material besi, aluminium bahkan serat karbon. Kelemahan sekaligus keunggulan bambu adalah sifatnya yang lentur.

Keistimewaan lain sepeda bambu rancangan Singgih adalah ide pemanfaatan kearifan lokal atas bambu itu sendiri. Bambu sejak lama sebagai bahan pembuatan rumah di desa. Meski umur pakai bisa berbilang tahun lewat perlakuan yang tepat, namun kini bambu mulai ditinggalkan.

Karya Berbuah Penghargaan

Berkat kreativitasnya itu, pada 2017, Spedagi memperoleh Bronze Award dalam DFA–Design for Asia Awards– diselenggarakan di Hong Kong. Pada 2018, Spedagi memenangi Gold Award Good Design Jepang 2018. Spedagi terpilih dari hampir 4.500 entri dari seluruh dunia.

Sepeda bambu Singgih sudah menjalani serangkaian uji coba. Spedagi telah diperiksa Japan Vehicle Inspection Association (JVIA), dan uji kendara di Indonesia melewati Jakarta Madiun sejauh 750 km tanpa kerusakan. Setiap produk Singgih memberikan garansi selama dua tahun.

Penghargaan dan lolos uji di Jepang ini membuktikan, kualitas Spedagi diakui di negara yang dikenal memiliki standar tinggi untuk produk ini.

Pengakuan atas kualitas dan desain produk sepeda bambu buatan Indonesia ini beberapa kali datang dari ajang di luar negeri. Sejauh ini, karya Singgih sudah menembus pasar internasional.

Apa yang dilakukan Singgih sudah selayaknya menjadi inspirasi banyak orang untuk menggali potensi yang ada di wilayahnya. Apalagi saat ini pemerintah Joko Widodo sedang getol menggalakkan gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI). (***/InfoPublik)

Sudut Pandang

19 Anggota Sidi GKPS Haranggaol Resmi Diteguhkan, Siap Menjadi “Tentara Kristus Muda”

14 Juni 2026 | 17:03 WIB
Pesona

Juara TOTK 2026 Naik Podium, Bupati Samosir dan Sekdaprovsu Serahkan Hadiah kepada Pelari dari 34 Negara

14 Juni 2026 | 16:17 WIB
Peristiwa

Tongam Pangaribuan Bantah Isu Suap Pansus Eks Rumah Singgah Covid-19, Siap Tempuh Jalur Hukum

13 Juni 2026 | 21:37 WIB
Peristiwa

Kasus Penganiayaan di Taman Bunga! DPD IPK Siantar Berduka untuk Korban, Serahkan Penanganan Kasus ke Penegak Hukum

13 Juni 2026 | 17:58 WIB
Tokoh

Ishak Hutasuhut Kembali Nahkodai Al Washliyah Pematangsiantar, Wesly Dorong Sinergi Umat dan Pemerintah

13 Juni 2026 | 14:37 WIB
Peristiwa

Sudah Bawa Motor untuk Kabur, Pencuri Timbangan di Siantar Utara Keburu Ditangkap

13 Juni 2026 | 11:57 WIB
Peristiwa

Seluruh Jamaah Haji Kembali Sehat, Wesly Silalahi Gelar Tepung Tawar Penuh Syukur

13 Juni 2026 | 10:56 WIB
Ekbis

Dukung Program “UMKM Sumut Berkah”, Bupati Samosir Hadiri Pembukaan PIISU 2026 di Parapat

12 Juni 2026 | 20:54 WIB
Ekbis

Wesly Silalahi Hadiri PIISU 2026, Dukung UMKM Pematangsiantar Terapkan Studi Kelayakan untuk Tarik Investor

12 Juni 2026 | 19:31 WIB
Pesona

Trail of The Kings 2026 Resmi Bergulir, Ribuan Pelari dari 34 Negara Siap Taklukkan Jalur Eksotis Samosir

12 Juni 2026 | 18:58 WIB
  • Pedoman
  • Policy
  • Redaksi
  • Simada News

© 2018-2026 Simada News

rotasibarakberita hari inidanau tobasumber

No Result
View All Result
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum

© 2018-2026 Simada News

rotasibarakberita hari inidanau tobasumber