SimadaNews.com – Aktivis Sentani (Sedulur Tani) DPD Dulur Ganjar Pranowo (DGP) Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Ken Blora menyampaikan “Relawan DGP sebagai kepentingan politik dan (atau) investasi politik.”
“Fenomena menarik dalam kontestasi Pilpres 2024, adalah kehadiran para relawan DGP yang semakin masif, meluas dan menghunjam hingga ke akar rumput. Mereka hadir mengisi ruang kosong interaksi konstruktif antara masyarakat dengan kekuasaan yang tidak terfasilitasi secara efektif oleh partai politik yang semakin oligarkis. Mereka bergerak menghadirkan kampanye kreatif di tengah pandemi untuk terlibat pemenangan Ganjar Pranowo for RI 1,” kata Ken Blora, melalui aplikasi WhatsApp, Sabtu (15/05/2921).
Ken Blora pun menyebutkan delapan catatan terhadap gerakan DGP tersebut, yaitu Pertama: Kehadiran relawan DGP adalah sebuah indikasi adanya perluasan partisipasi politik masyarakat di tengah arus dominasi oligarki partai partai politik.
Kedua: Gejala ini bisa menjadi titik awal yang sangat penting untuk mengembangkan dan memperkuat demokrasi partisipatif, dimana keberadaan dan peran publik bisa mengimbangi dominasi para elit di tubuh partai yang cenderung egois dan “buta-tuli” terhadap aspirasi warga.
Ketiga: Kehadiran relawan DGP mengisyaratkan semakin meningkatnya political literasi (kemelekan politik) warga sedemikian rupa, sehingga mereka faham bahwa urusan publik tidak selalu dapat dipercayakan kepada partai politik.
Keempat : Karena itu relawan DGP harus terus bergerak menghadirkan berbagai alternatif kebijakan, termasuk ikut “menyiapkan, mendukung, terlibat pemenangan” Ganjar Pranowo sebagai calon pemimpin Indonesia yang dapat melahirkan model kepemimpinan transformatif.
Kelima: Karena tidak terafiliasi dengan partai politik, relawan DGP bisa membangun gerakan perlawanan dominasi kekuasaan dinasti partai untuk membangun opini publik baik di media masa atau ranah medsos.
Keenam: Relawan DGP ini menjadi semacam “oase” di tengah arus deras gejala materialistik, transaksional, dan kerja kerja politik serba pamrih(imbal balik) yang membuat kehidupan politik selama ini semakin terjebak budaya mainstream.
Ketujuh: Karena prinsip kehadiran dan kerja para relawan DGP yang volunteer (sukarela), tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan-keuntungan materil, semi self-help (mandiri), bahkan cenderung.
Semua dilakukan dengan dasar tulus ikhlas, semata-mata untuk memberi kontribusi nyata pada perubahan-perubahan berarti bagi masyarakat Indonesia, berdasar sebuah nilai akan sebuah harapan perubahan nyata Indonesia menjadi lebih baik di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo.
Kedelapan: Inisiatif-inisiatif publik dari kawan kawan DGP seluruh Indonesia juga harus didorong dalam menentukan langkah strategi taktis ke depan berdasar kearifan lokal budaya masing masing daerah.
Karena kita adalah kolektif yang selalu memastikan waktu untuk tetap berputar, menjadikan tiap kebencian adalah energi, untuk mengubah pesimisme, menjadi bahan bakar mesin yang mendaur ulang opini, bangkai-bangkai retorika, sampah-sampah wacana menjadi api perlawanan dan kitab suci pembebasan ahir zaman.
“Percayalah, kebenaran selalu ada di pihak yang tertindas. Percaya itu!!! Tetapi sayangnya gosip adalah candu bagi orang tertindas. Karena kecanduan gosip, kita lupa kebenaran dan lupa mengorganisir kekuatan masyarakat untuk melawan,” kata Ken Blora, relawan DGP dari pelosok desa tengah hutan jati Randublatung, Blora. (***/ingot simangunsong)