SimadaNews.com– Polemik anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di ruang publik. Menjawab beredarnya informasi yang menyebut biaya makan mencapai Rp15.000 per porsi, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan angka tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk bahan makanan.
Penjelasan ini disampaikan setelah sejumlah unggahan media sosial menyoroti menu MBG yang dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang beredar.
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa anggaran bahan baku makanan dalam program MBG hanya berada pada rentang Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.
Ia merinci, kelompok balita hingga siswa kelas awal SD memperoleh alokasi Rp8.000 per porsi, sedangkan siswa kelas atas hingga ibu menyusui mendapat Rp10.000.
“Anggaran bahan makanan untuk balita sampai SD kelas 1–3 Rp8.000 per porsi, sedangkan SD kelas 4 ke atas hingga ibu menyusui Rp10.000,” ujar Nanik, Selasa (24/2).
Menurutnya, angka Rp13.000–Rp15.000 yang kerap disebut publik merupakan total pembiayaan program, bukan murni untuk bahan pangan.
BGN menjelaskan struktur biaya MBG terbagi dalam beberapa komponen. Selain bahan makanan, terdapat biaya operasional sekitar Rp3.000 per porsi yang digunakan untuk kebutuhan pendukung seperti listrik, air, gas, insentif relawan, hingga distribusi makanan.
Tak hanya itu, sekitar Rp2.000 per porsi dialokasikan untuk sarana pendukung, termasuk sewa dapur, gudang, instalasi pengolahan air limbah, serta penyediaan peralatan memasak modern.
BGN menilai skema ini diperlukan agar program dapat berjalan berkelanjutan, tidak sekadar fokus pada menu makanan, tetapi juga memastikan proses produksi dan distribusi memenuhi standar kebersihan serta keamanan pangan.
Penjelasan tersebut muncul di tengah perdebatan publik soal kualitas menu MBG, terutama setelah muncul contoh menu yang dianggap sederhana.
Dengan anggaran bahan makanan Rp8.000–Rp10.000, kecukupan penyediaan protein hewani seperti daging atau ikan menjadi sorotan masyarakat.
BGN menyatakan komposisi menu tetap mengacu pada standar gizi dan disesuaikan dengan harga bahan pangan di tiap daerah.
Variasi menu pun dimungkinkan selama kebutuhan nutrisi penerima manfaat terpenuhi. (SNC)

