SimadaNews.com-Perayaan Hari Jadi ke-22 Kabupaten Kabupaten Samosir memantik perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Sorotan muncul setelah rangkaian acara disebut hanya melibatkan satu artis lokal, sementara panggung utama didominasi penampilan artis dari ibu kota.
Fenomena ini memicu pro dan kontra di kalangan seniman daerah. Sejumlah pelaku seni menilai momentum hari jadi daerah seharusnya menjadi etalase budaya lokal, bukan sekadar panggung hiburan populer.
Seorang seniman lokal mengungkapkan, selama ini artis daerah kerap merasa kurang dihargai dalam berbagai agenda besar pemerintah.
Mereka menilai alokasi anggaran yang besar untuk mendatangkan artis ibu kota seharusnya bisa dialihkan sebagian untuk pembinaan, produksi karya, serta pemberian ruang tampil bagi talenta lokal.
“Kami bukan menolak artis luar. Tapi jangan sampai kami hanya jadi penonton di rumah sendiri. Ini momen budaya, bukan sekadar konser,” ujar salah satu pelaku seni yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah maupun panitia penyelenggara memiliki pertimbangan berbeda. Kehadiran artis ibu kota dinilai lebih efektif menarik massa dan meningkatkan gaung perayaan, sekaligus berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Namun, argumen tersebut tak sepenuhnya meredam kritik. Sejumlah warga menilai euforia perayaan terasa kontras dengan kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat.
Keluhan muncul mulai dari hari kerja yang terdampak kegiatan perayaan hingga persoalan ekonomi, seperti petani yang mengalami gagal panen dan isu keterlambatan pembayaran honor di sektor sosial dan pendidikan nonformal.
Para seniman lokal pun mendorong adanya evaluasi konsep perayaan. Mereka mengusulkan agar jadwal acara diatur lebih variatif serta melibatkan lebih banyak tokoh seni dan tokoh masyarakat dalam perencanaan.
Pendekatan partisipatif dianggap penting agar perayaan tidak monoton dan mampu merepresentasikan identitas budaya Samosir secara utuh.
“Harus ada ruang dialog. Libatkan seniman dan tokoh masyarakat sejak awal supaya acara lebih hidup dan pengunjung tidak bosan dengan konsep yang itu-itu saja,” tambah perwakilan komunitas seni.
Perdebatan ini mencerminkan dilema klasik antara strategi hiburan massal dan pelestarian budaya lokal. Di tengah harapan menjadikan perayaan hari jadi sebagai magnet wisata, aspirasi seniman daerah menegaskan pentingnya keseimbangan antara popularitas dan pemberdayaan. (SNC)
Laporan: Benry Naibaho

