SimadaNews.com-Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan sejarah baru. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), mata uang Indonesia terperosok hingga level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi titik terlemah sepanjang masa.
Pelemahan ini menandai tekanan yang semakin dalam terhadap rupiah, melampaui fase-fase krisis sebelumnya, termasuk saat pandemi Covid-19 dan gejolak finansial global.
Pengamat pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi tersebut tidak lepas dari perubahan besar sentimen global. Investor saat ini cenderung menghindari risiko di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
“Rupiah tertekan oleh sentimen risk off akibat kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah,” ujar Lukman.
Menurutnya, dalam situasi seperti ini, arus modal global cenderung keluar dari negara berkembang dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi membebani anggaran negara, terutama dari sisi subsidi.
Lukman mengingatkan, tekanan fiskal bisa meningkat apabila pemerintah harus menahan harga bahan bakar di tengah tren kenaikan minyak global. “Tidak sedikit yang memperkirakan defisit akan tetap melewati 3 persen,” katanya.
Dampak pelemahan rupiah diperkirakan tidak hanya berhenti di pasar keuangan. Kenaikan nilai dolar AS berpotensi mendorong harga barang impor, memicu inflasi, serta menekan daya beli masyarakat.
Kondisi ini juga dapat berimbas pada perlambatan konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, tren pelemahan rupiah memang sudah terlihat. Sejak awal Maret 2026, rupiah telah menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS dan terus bergerak melemah seiring meningkatnya tekanan eksternal.
Situasi ini menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu isu krusial yang harus segera direspons oleh otoritas moneter dan pemerintah.
Jika tekanan global berlanjut tanpa intervensi yang efektif, pelemahan rupiah berpotensi berlanjut dan memperbesar risiko terhadap perekonomian nasional. (SNC)

