SimadaNews.com-Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Pada perdagangan Rabu (6/5/2026), mata uang Garuda kembali bergerak di zona lemah, menempel ketat level psikologis Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS), memperpanjang tren penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data acuan resmi, kurs referensi Bank Indonesia atau JISDOR pada Selasa (5/5) tercatat di Rp17.425 per dolar AS, melemah dibanding hari sebelumnya.
Angka ini sekaligus menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih konsisten sejak awal pekan.
Di pasar spot, pelemahan juga terlihat jelas. Rupiah ditutup turun tipis sekitar 0,17% ke posisi Rp17.424 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya, menandai berlanjutnya tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Tekanan Global Masih Dominan
Analis pasar menilai, pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor global ketimbang domestik.
Meskipun ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan solid sekitar 5,61% secara tahunan pada kuartal I-2026 faktor tersebut belum cukup kuat menahan laju depresiasi.
Sejumlah sentimen global seperti penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, hingga ketidakpastian pasar keuangan internasional masih menjadi beban utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Data ekonomi domestik sebenarnya cukup positif, tetapi belum mampu mengimbangi tekanan eksternal,” ujar seorang analis pasar uang, menggambarkan kondisi terkini.
Bank Indonesia Siaga Penuh
Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah stabilisasi.
Otoritas moneter memastikan intervensi di pasar valas akan tetap dilakukan, baik di pasar domestik maupun offshore, untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
Bahkan, langkah pengetatan kebijakan terhadap pembelian dolar AS mulai disiapkan, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan permintaan valas dan menahan tekanan terhadap rupiah.
Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas nilai tukar masih menjadi prioritas utama di tengah gejolak global yang belum sepenuhnya reda.
Arah Rupiah Hari Ini
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Tekanan jangka pendek dinilai belum akan hilang, seiring kuatnya dolar AS di pasar global.
Namun demikian, sejumlah analis melihat peluang stabilisasi tetap terbuka, terutama jika intervensi bank sentral dan sentimen domestik mampu memberikan penopang tambahan.
Dengan kata lain, pasar kini berada dalam fase waspada rupiah belum jatuh bebas, tetapi juga belum menemukan titik balik yang kuat. (SNC)

